UPACARA WISUDA

oleh -211 views
banner 340x110 banner 340x150

Upacara wisuda itu baru saja berlalu. Baju toga yang dikenakannya segera ia lepaskan. Di dalam kamar, pada sebuah almari kayu tua, tatapan matanya tertuju. Ia mendekat. Kemudian memandangi cermin pada almari kayu peninggalan kakek buyutnya itu.

Ditemuinya wajahnya sendiri. Wajah lelah sehabis menguras seluruh energinya untuk sebuah perayaan kelulusan. Diamatinya setiap lekuk pada garis wajahnya. Dalam-dalam ia mengamati. Lalu, tersenyumlah ia pada bayangannya sendiri yang jatuh pada cermin itu.

banner 740x140

Kemudian, lirih ia bicara pada bayangannya sendiri, “Sekarang kau sudah lulus. Sudah jadi sarjana. Kau senang?”

Pertanyaan itu kemudian ia jeda. Arman terdiam untuk beberapa saat. Tatapannya menajam. Seolah-olah hendak melucuti bayangannya sendiri. Seolah-olah ia tengah menunggu jawaban dari bayangan pada cermin itu. Bayangan yang tak lain adalah bayangannya sendiri.

“Ah, sudah pasti kau senang. Tetapi esok, kau mau ke mana lagi? Perjalanan belum usai, kawan. Perjalanan masih sangat panjang. Meskipun pesta telah usai.”

Di atas meja, map berwarna cokelat muda tergolek kelelahan setelah mengikuti upacara wisuda sejak pagi hingga jelang sore tadi. Map itu begitu nyaman menikmati istirahatnya di atas meja. Menyaksikan map yang tengah asyik dengan istirahatnya itu, Arman tergoda untuk membangunkan sesaat. Didekatinya map itu, lalu diraihnya. Kemudian, ia tunjukkan map itu pada cermin.

“Dulu kau memburu ini. Mati-matian kau jatuh bangun demi ini. Tetapi, setelah ini apalagi yang akan kau buru, kawan?” ujarnya pada cermin itu. “Pekerjaan? Bukankah terlalu banyak pekerjaan di dunia ini? Dan sejak tahun-tahun lalu, ketika kau masih memburu ini, telah banyak kesempatan untuk bekerja engkau sia-siakan, kawan. Kau sibuk bergelut dengan buku-buku, diktat-diktat, duduk diam pura-pura mengerti apa yang kau dengar dari ceramah dosen-dosenmu. Kau berlagak seperti seorang yang benar-benar berpengetahuan luas, tetapi kau sendiri tak paham untuk apa. Apakah pengetahuan yang kau peroleh itu bisa kau gunakan atau tidak? Bagaimana cara menggunakannya dalam kehidupan? Kau sama sekali tak paham. Iya kan?”

Sejenak Arman diam. Tatapannya makin tajam dan dalam. Lalu, ia tersenyum lebar, “Ah, kau ini benar-benar lucu, kawan. Kau kejar sesuatu yang tak kau pahami sebelumnya. Lalu, begitu kau dapat, kau juga tak paham apa yang mesti dilakukan untuk membuatnya berguna bagi kehidupan. Setidaknya, untuk kehidupanmu. Malah, kau tenggelam keasyikan dalam upacara-upacara yang sebenarnya membosankan itu. Ah, sarjana… ya, kau sudah sarjana, kawan. Kau sekarang ini orang terhormat karena ilmunya. Tetapi, mau kau apakan kehormatanmu ini, kawan?”

Lagi-lagi, bayangan pada cermin itu tak menjawab. Tampak Arman mulai kesal. Ia buang muka. Lirih ia berkata kemudian, “Sebenarnya, setelah segala yang kau inginkan itu tercapai, tak ada sesuatu pun yang ada di dalamnya. Kecuali satu hal, kau hanya menciptakan ketakutan bagi dirimu sendiri. Kau ingat, ketika kau putuskan untuk kuliah? Kau hanya takut untuk tidak dianggap, kau takut tak punya teman, kau takut tak dihargai, dan kau takut jika masa depanmu menjadi suram hanya karena kau merasa kalah bertempur. Dan saat kau berpikir tentang ketakutanmu itu, kau sebenarnya sudah kalah, kawan. Coba lihat, kau punya banyak teman. Ada Mamat yang berani ambil keputusan jadi tukang becak. Ia tak malu menempuh jalan hidupnya, walau kau pikir hidupnya menderita. Tapi lihatlah! Ia bahagia menjalani itu. Ada juga Karto yang memilih jadi tukang sol sepatu setelah ia tak dapat meneruskan kuliahnya. Tetapi, itu ia lakukan dengan sepenuh hati. Sekarang, ia bahkan lebih bahagia dari dirimu, kawan. Juga ada Sugi yang memilih jualan koran di bawah terik matahari yang menyengat, di jalanan. Tetapi, lihatlah! Ia jauh lebih bisa memahami kehidupan. Ya, mereka itu lebih terhormat dari dirimu, kawan, sebab mereka tak sepengecut dirimu. Mereka berani menghadapi ujian hidup. Sedang kau, hingga kini masih saja berada di antara bayangan ketakutan yang kau bikin sendiri. Berharap dihormati dengan pekerjaan yang katanya terhormat. Berbaju rapi, berangkat dengan dada membusung, sepatu mengkilap, dan aroma parfum yang wangi. Ah, masih mending bau keringat sendiri. Sekalipun tak sedap aromanya, tetapi tak ada kepura-puraan. Mereka bahkan bisa lebih menerima keadaan. Tidak seperti kau, kawan. Selalu menolak kenyataan, lalu pura-pura membangun istana mimpi di atas awan.”

Map cokelat muda bergambar lambang kampus tempat ia berkuliah itu masih dipegangnya. Map itu tak berkata apa-apa. Hanya kilauan warna keemasan yang memantulkan sinar matahari yang menerobos ke dalam bilik lewat genting kaca.

Diusapnya map itu dengan perlahan, sambil ia berkata, “Ah, mungkin baiknya kau istirahat. Kau tampak kelelahan setelah lama kau menunggu giliran. Ya, kau istirahatlah di sini. Di dalam laci ini.” Perlahan Arman meletakkan map itu.

Sejak itu, ia tak pernah menyentuh map itu. Map warna cokelat muda bertahta lambang kebesaran kampusnya berwarna keemasan.

 

Sebulan sudah, sejak ia diwisuda, ia tampak sibuk bekerja. Berangkat pagi, pulang sore hari. Ketika matahari mulai redup sinarnya. Kedua orangtuanya bangga melihat anaknya bekerja. Apalagi, di masa-masa sekarang, sangat sulit bagi seseorang untuk mencari pekerjaan. Tetapi, Arman, hanya butuh waktu tiga hari menganggur selepas upacara kelulusan itu ia lalui.

Sang ayah merasa tidak sia-sia ia menyekolahkan anaknya. Sang Ibu merasa lega, sebab ia tak harus dihantui rasa khawatir yang berlebihan. Ia tidak harus mendengar clemongan para tetangga menyoal anaknya itu. Betapa bahagianya hati sang Ibu.

Tiap pagi, Ibu menyiapkan sarapan. Begitu pula ketika Arman pulang kerja. Selalu saja ada teh hangat dan makanan untuknya diiringi sambutan yang hangat. Senyum Ibu mengembang, tatapannya pun berbinar. Selalu begitu.

“Makan dulu, Le!” begitu sambut sang Ibu. Ya, selalu begitu.

Arman pun tak mau menyia-nyiakan. Ia tahu, Ibu akan merasa bahagia jika ia bersegera melahap apapun yang dimasaknya. Apalagi, ketika ia memuji masakan Ibunya.

“Sejak kau kerja, nafsu makanmu kok makin bertambah to, Le?” seloroh Ibunya.

“Lho, ini semua karena masakan Ibu yang bikin lapar, Bu,” sahut Arman.

“Syukurlah. Tapi, tahu nggakLe, itu pertanda baik.”

“Pertanda apa, Bu?”

“Itu artinya kau bekerja sungguh-sungguh.”

Arman hanya mengangguk. Lalu, makan lagi.

“Ya sudah, dihabiskan dulu makannya. Jangan lupa, kalau kerja itu yang bener. Nggak usah kesusu. Nggak usah grasagrusu. Lakukan dengan hati-hati. Sing penting awakmuslamet, ya Le,” kata Ibu menasihati.

Dari luar, suara batuk Ayah terdengar. Segera, Arman menyambut kehadiran Ayahnya. Diraihnya tangan sang Ayah, berusaha menyalami dan mencium tangan sang Ayah, sebagai tanda hormatnya. Tetapi, dengan tangkas sang Ayah menarik tangannya. Tak mau dicium anaknya.

Pemandangan itu membuat sang Ibu bertanya-tanya. Ada rasa tak enak bercampur khawatir dalam dirinya. “Pakne, wong disambut anaknya kok ngonoto, Pak?” tegur sang Ibu halus.

“Anak kuwalat!” ucapan itu seperti ledakan yang tiba-tiba.

Mendengar ucapan itu, Ibu merasa terpukul. Sebab, baru kali ini, ia mendengar ucapan yang begitu kasar. Di mata Ibu, Ayah adalah orang yang bijaksana. Perangainya lembut dan penuh kasih sayang. Sekalipun ia tegas, tak pernah ia mengucapkan kata-kata sekasar itu.

“Lho! Pakne, ada apa ini?” tanya Ibu.

“Tanyakan sendiri pada dia!”

Ibu bingung. Tak mengerti harus bagaimana. Ditatapnya wajah Arman. Seketika itu, Arman menunduk. Tak berani membalas tatapan Ibunya. Dengan sabar, Ibu mendekati Arman. Lalu, diusapnya kepala Arman dengan lembut.

“Memalukan!” lagi-lagi sang Ayah mengumpat.

“Ada apa to, Pakne? Kok tiba-tiba Bapak jadi begini? Ada apa?” tanya Ibu dengan suara yang penuh ketakutan dan rasa khawatir.

“Sudahlah Bu, jangan kau manjakan dia. Dia itu anak kuwalat! Nggakpantes dimanja!”

“Pak, mboksareh, Pak… sareh.”

Wisto, Bu, percuma Ibu bela dia! Percuma! Dia ini anak yang tak tahu diri. Sudah dibesarkan eh malah bikin malu saja.”

“Paaak… wisto Pak… wis. Kasihan dia. Dia ini baru pulang kerja. Kok malah Bapak ngomeli. Dia ini masih capai, Pak,” bela sang Ibu.

“Pulang kerja? Apa dia kerja?”

“Maksud Bapak?”

“Kau tanya saja padanya!” segera setelah Ayah mengucapkan itu, ia pun menuju bilik, disertai suara daun pintu yang dibantingnya.

Kini, Ibu menatap dalam-dalam pada mata Arman. Seolah-olah tengah menyelidiki sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan anaknya. Tak kuasa Arman memandang mata Ibunya yang berkaca-kaca, ia menunduk. Seketika tangan Ibunya meraih dagunya, menegakkan kembali wajah Arman. Tetapi, tak ada keberanian dalam diri Arman untuk menatap mata Ibunya.

“Katakan, Le. Katakan. Jujur, Le. Jujur,” ucapan Ibu perlahan melelehkan kebekuan Arman.

Dengan terbata-bata Arman pun mulai membuka mulutnya. Mengaku, “Nyuwunpangapunten Ibu, dalem sudah berbuat salah. Dalem sudah membohongi Bapak dan Ibu.”

“Jadi benar apa kata Bapakmu, Le?”

Arman mengangguk pelan.

“Terus apa yang kamu lakukan selama ini?”

Dalem hanya jadi pekerja serabutan, Bu. Jadi kuli bangunan.”

Seketika bongkahan air bening yang sejak tadi bertengger di antara pelupuk mata Ibu. Sesunggukan. Lalu, didekaplah Arman. Dipeluk erat tubuh Arman. “Oalah, LeLe. Kok kamu tega berbuat itu pada Ibu, Le? Kok tega-teganya kamu bohongi Ibu? Apa ibu pernah memaksamu untuk berbohong, Le? Ha? Katakan, katakan Le.”

Arman terdiam. Ia tak bisa berucap apapun kecuali menunduk di hadapan Ibu. Ia tahu, ini sangat menyakitkan hati Ibu. Juga perasaan Ayah. Sebab, selama ini, Ayah Ibunya sangat berharap agar ia menjadi seorang pekerja kantoran. Berpakaian rapi, sepatu mengkilat, kerja enak, dengan gaji yang lumayan besar. Tetapi, ia tak bisa memenuhi harapan itu.

Ia tahu, yang ia lakukan ada kesalahan besar. Memilih jalan hidup yang dianggap salah oleh kedua orangtuanya. Apalagi itu ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Tetapi, ada sesuatu yang ingin sekali ia sampaikan pada kedua orangtuanya. Sesuatu yang dalam pikirannya akan sangat membuat keduanya bahagia. Hanya saja, ia tak mau terburu-buru. Setidaknya, agar ia siap menghadapi segala kemungkinan buruk. Sayang, waktu berkehendak lain. Waktu punya keputusan lain dari apa yang ia rencanakan.

Kini, ia himpun keberanian yang sempat berserakan di lantai. Memunguti tiap-tiap pecahan itu, kemudian merangkainya menjadi bangunan utuh. Ditatanya kata, ditatanya diri, diaturnya napas. Lalu, dari mulutnya ia bicara, “Bu, selama ini dalem sudah banyak merepotkan Bapak dan Ibu. Dalem sudah membuat Bapak dan Ibu susah. Dan hari ini, dalem membuat keadaan semakin susah. Tetapi, dalem tidak ada sama sekali niatan untuk membuat Bapak dan Ibu merasa kecewa. Sama sekali tidak, Bu.”

Ibu mengangguk pelan, “Ibu ngerti, Le. Ngerti. Tapi apa ya harus begini caranya?”

“Maafkan Arman, Bu. Sungguh dalem tidak bermaksud menyakiti perasaan Ibu dan Bapak.”

“Iya, Le… iya. Ibu maafkan. Tapi, beri Ibu penjelasan, Le. Beri Ibu penjelasan.”

Arman menunduk. Dihelanya panjang-panjang napasnya. Kemudian berucap, “Ngapunten, Bu. Jika dalem salah. Sesungguhnya, apa yang dalem lakukan tidak lain hanya ingin membuat Ibu dan Bapak bahagia. Pilihan dalem ini semata-mata ingin menunjukkan bakti dalem pada Bapak dan Ibu.”

Belum selesai Arman bicara, dari balik pintu bilik suara Ayah terdengar lantang, “Berbakti?!Kau bilang itu sebagai tanda baktimu pada Bapak dan Ibumu? Kalau kamu mau berbakti pada orangtua, mestinya tak bikin malu!” lalu, Ayah pun keluar dari bilik. Ia masih melanjutkan kata-katanya, “Jangan asal ngomong kamu!” Didekatinya Arman. Lalu, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arman. Diraihnya pula kerah baju Arman. Diangkatnya tubuh Arman. Lalu, didekatkannya wajah Arman pada wajahnya. Tatapan Ayah tajam, sangat tajam. Lebih tajam dari sekadar ujung tombak.

“Kau harus ngerti, Le! Tamparan ayahmu belum seberapa. Tetapi, ketidakjujuranmu pada Ayah dan Ibumu jauh lebih menyakitkan, Le! Mau jadi apa kamu?!”

Kemudian dibantingnya tubuh Arman ke lantai hingga ia jatuh tersungkur.

“Berpayah-payah aku banting tulang. Semua aku lakukan agar kau tidak seperti Bapak. Tetapi, apa balasanmu? Apa?!Cuma jadi kuli bangunan. Kuli batu! Memalukan! Anak seorang pejabat dinas, sarjana terbaik, jadi kuli batu! Mau ditaruh mana muka Bapakmu ini? Mau ditaruh mana?! Mestinya aku tak datang di acara wisudamu. Memalukan!”

Dengan suara parau, Arman berusaha membalas kata-kata Ayahnya, “Nggih, Pak… dalem salah, Pak. Dalem salah. Dalem minta maaf, Pak.”

“Baik. Baik. Bapak maafkan. Tapi, sejak sekarang juga, kau angkat kaki dari rumah ini!”

“Pak!” seru Ibu.

“Percuma aku punya anak sepertimu! Percuma!”

Kata-kata Ayah memukul telak perasaan Arman. Ia berusaha bangkit. Lalu berdiri di hadapan ayahnya. Lirih ia berkata, “Baik, Pak. Dalem akan pergi. Tetapi, mesti Bapak tahu, apa yang dalem lakukan semata-mata agar Bapak mengerti, bahwa masa depan itu tak ditentukan oleh selembar ijazah. Tak ditentukan oleh gelar kesarjanaan. Dalem memang sudah lulus dan diwisuda, lalu jadi sarjana. Tetapi, dalam kehidupan, dalem belum lulus. Begitu juga Bapak, yang rupanya lebih membanggakan gengsi daripada berani menghadapi kenyataan hidup. Dalem hanya berdoa, semoga suatu hari Bapak menyadari ini semua. Dalem pamit.”

Setelah ia ucapkan kata-kata itu, Arman segera meninggalkan Ayahnya. Bergegas menuju kamar dan mengepak barang-barang yang ia bawa. Bekal untuk pengembaraannya yang ia sendiri tak pernah tahu akan sampai berapa lama. Sedang, Ibu tak kuasa menahan tangisnya. Tak juga mampu menahan langkah Arman.

“Bu, dalem pamit. Jaga Bapak, jaga juga diri Ibu. Jangan sampai Ibu sakit, ya Bu. Kalau Ibu kangen, doakan saja dalem agar senantiasa diberi keselamatan. Begitu juga dalem, akan selalu mendoakan Ibu dan Bapak. Semoga Gusti Allah tak henti-hentinya mencurahkan segala kebaikan untuk Bapak dan Ibu,” ucap Arman.

Le… Man… jangan pergi, Le… jangan pergi.”

Dalem tidak pergi, Bu. Dalem tetap bersama Ibu dan Bapak. Setidaknya, Ibu dan Bapak akan selalu ada dalam hati dalem. Percayalah, Bu. Doakan dalem selamat, Bu.”

 

 

Pekalongan, 17 Juli 2017

Kang Sodrun (Ribut Achwandi)

banner 340x140 banner 350x140