Orkes Ala Kadarnya

oleh
banner 340x110 banner 340x150

Pada tahun 1987-1989, sekelompok anak muda kelurahan Landungsari, berbekal alat-alat musik ala kadarnya, membangun sebuah kelompok orkes. Awalnya, hanya tongkrongan. Sebatas pengisi luang waktu di malam hari. Melepas lelah dan penat setelah seharian mereka bekerja. Rata-rata mereka bekerja sebagai pekerja serabutan. Ada yang di bengkel. Ada pula yang jadi kuli bangunan. Juga ada yang bekerja di pabrik.
Adalah halaman rumah orang tua sahabat karibku, Slamet Riyadi namanya, yang dijadikan tempat mereka nongkrong kala itu. Mula-mula hanya beberapa orang. Almarhum Om saya, Slamet Toro namanya, dan beberapa temannya. Dengan gitarnya, Om saya mengiringi orang-orang untuk bernyanyi bersama. Ia sebenarnya tak begitu lihai memainkan gitar. Keterampilannya memainkan gitar tergolong biasa saja. Tetapi, ia cukup bisa mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh orang-orang yang ikut nongkrong kala itu.
Pemandangan itu rupanya membuat beberapa orang yang lain tertarik. Tak pelak, mereka pun ikut nongkrong. Makin hari tongkrongan pun semakin dikerumuni banyak orang. Dari situlah, muncul gagasan dari salah seorang yang sama-sama nongkrong untuk membeli kendang. Sementara yang lain membuat tamborin berbahan tutup botol minuman bersoda. Makin meriahlah tongkrongan itu. Makin ramai pula tongkrongan itu. Menjadi hiburan gratis yang sangat merakyat.
Selang beberapa waktu kemudian, salah seorang dari yang suka nongkrong berinisiatif membikin bas berbahan dasar kayu dan ban dalam sepeda. Bentuknya sederhana. Hanya kotakan yang dilubangi. Sementara ban dalam sepeda itu diulir dan direntangkan.
Ini membuat tongkrongan semakin ramai. Hampir setiap malam, halaman rumah sahabat karibku itu tak pernah sepi. Sampai pada akhirnya, salah seorang dari mereka rela merogoh isi dompetnya untuk membeli seruling. Makin lengkaplah kelompok musik ala kadarnya itu. Dan rupanya, kabar keramaian itu terdengar sampai ke telinga Pak Lurah.
Beberapa hari kemudian, Pak Lurah mengundang mereka. Meminta mereka main di balai kelurahan. Mereka pun menyambut dengan hati riang.
Laiknya sebuah konser kecil-kecilan, mereka memainkan beberapa lagu yang dibawakan secara spontan. Tidak ada vokalis, karena di antara mereka bisa saling bergantian menyanyi. Bahkan mereka kerap menyanyikan lagu bersama-sama. Penonton pun ikut bernyanyi.
Sungguh, malam itu begitu menggembirakan. Semua warga yang ikut nonton terhibur. Karenanya, Pak Lurah kala itu memberi mereka apresiasi. Memberi mereka sejumlah uang. Tentu, hal itu sangat menggembirakan bagi mereka. Sebab, selama ini mereka tidak pernah membayangkan peristiwa itu.
Seusai acara hiburan rakyat yang dadakan itu, Pak Lurah juga memberi saran kepada mereka agar kelompok orkes ala kadarnya ini bisa main ke mana-mana. Pak Lurah bahkan mendukung apabila mereka mau “ngamen” ke mana-mana. Harapannya, mereka bisa mengenalkan nama Landungsari.
Dan benar saja, saran itu pun terlaksana. Mereka “ngamen” ke mana-mana. Sekalipun tidak selalu menggunakan panggung. Apalagi kalau pas tujuhbelasan. Mereka benar-benar bermain dengan sepenuh hati. Ada bayaran ya disyukuri, kalaupun tak ada setidaknya mereka masih bisa bergembira karena diberi kesempatan untuk menghibur banyak orang.
Sayang, orkes yang ala kadarnya ini hanya mampu bertahan sampai tahun 1989. Sebab, pada tahun itu, Om saya menghembuskan napas yang terakhir. Dan sejak itu, tak ada regenerasi. Tak ada keberlanjutan. Bahkan, Pak Lurah merasa sangat kehilangan kepergian Om saya kala itu. Pak Lurah, secara khusus datang melayat ke rumah dan memberi penghormatan terakhir, sampai mengantarkan jenazah Om saya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Sejak saat itu pula, mulailah ajang kumpul-kumpul itu surut. Sepi. Kalaupun masih ada kumpul-kumpul, selalu saja ada yang kurang rasanya. Lambat laun, makin senyaplah suara-suara musik itu. Makin sepi. Meski begitu, ada banyak orang yang masih mengenang kebersamaan mereka. Masih ada kerinduan itu. Masih terngiang oleh ingatan, sekalipun mereka bukanlah bintang terkenal. Dan memang, mereka tak pernah memikirkan untuk menjadi terkenal. Apalagi berharap menjadi pesohor.

#ndleming
Ribut Achwandi
Pekalongan, 22 Januari 2019

banner 340x140 banner 350x140