MEMBACA ULANG JEJAK MASA LALU

oleh -
banner 340x110 banner 340x150

Sedulur lanangku Kang Udjie Sudihardjo yang asli desa Gondang, kecamatan Blado, Batang, beberapa waktu lalu sekelumit bercerita tentang asal-usul desa kelahirannya. Konon, asal-usul desa Gondang yang terletak di kaki gunung Kamulyan itu tidak lepas dari nama besar tiga tokoh. Salah satunya, Kiai Adam Sari. Nama Kiai Adam Sari disebut-sebut sebagai tokoh sesepuh desa Gondang yang memiliki ayam jago kondang. Dan memang, simbol dari desa Gondang itu, menurut cerita tutur masyarakat desa Gondang adalah ayam jago. Ketiga tokoh itu, termasuk Kiai Adam Sari, masing-masing memiliki ayam jago yang berbeda-beda.

Nah, berkait dengan nama Kiai Adam Sari itu, ingatan saya langsung meloncat pada kisah asal-usul salah satu desa di kawasan Dieng. Yaitu, desa Sembungan. Dalam cerita rakyat desa Sembungan, nama Kiai Adam Sari disebut sebagai tokoh yang babat alas desa itu. Nama lain dari Kiai Adam Sari, menurut cerita tutur yang berlaku di masyarakat Sembungan, adalah Jaka Sembung. Dari nama itulah kemudian desa itu disebut desa Sembungan.

banner 740x140

Dua hal ini sangat menarik bagi saya, sebab jika memang Kiai Adam Sari yang disebut oleh dulur lanangku ini memiliki kaitan dengan asal-usul desa Sembungan, maka boleh dikatakan jika sejatinya antara Gondang dan Sembungan memiliki ikatan geneologis dari aspek sejarah dan budayanya. Saya menduga, jika asal-usul nama kedua desa ini memiliki keterkaitan, bisa saja ini memperlihatkan sebuah perjalanan laku hidup dari tokoh-tokoh itu. Sebuah proses panjang dalam mengarungi kehidupan untuk menemukan makna dan memaknai kehidupan. Bahwa kehidupan di atas permukaan bumi ini sejatinya adalah perjalanan yang saling menyambung dan terkait. Proses-proses yang dilalui adalah bagian dari penemuan-penemuan makna di atas jagat raya ini. Nama-nama desa, dengan demikian, mungkin saja menjadi tanda simbolik tahapan-tahapan dari sebuah proses panjang, hingga pada akhirnya mencapai pada titik “nemu”.

Ah, alangkah indahnya jika demikian. Dan saya pikir, saya mesti menempuh perjalanan lagi yang masih panjang. Mempelajari proses-proses itu. Mempelajari tiap-tiap tanda yang ditinggalkan lewat jejak masa lalu hingga mengurai makna-makna yang begitu luas dan mendalam. Jika demikian, sejarah dalam tatanan masyarakat Nusantara bisa saja dipahami sebagai laku urip mring kang sejati (laku hidup menuju pada kesejatian).

banner 350x350 banner 350x140