Kyai Suprih (Cerpen Ribut Achwandi)

oleh
banner 340x110 banner 340x150
  • Pagi itu, para santri dikejutkan oleh sebuah kabar. Bahwa hari itu seluruh kegiatan di pondok pesantren ditiadakan. Kabar itu langsung disampaikan Mbah Kyai Suprih melalui corong masjid di kompleks pondok. Padahal, tak ada tanggal merah, juga tak ada peringatan apapun.

Sontak, kabar itu membuat sebagian besar santri dan para ustadz bingung. Sekalipun ada pula yang bergembira menyambutnya, karena merasa tak ada beban. Mereka terbebas dari hal-hal rutin. Meski itu hanya untuk satu hari. Ya, pokoknya bebas! Soal itu merugikan atau tidak, bukan soal penting bagi mereka.

Tetapi bagi mereka yang bingung, kabar itu membuat mereka bertanya-tanya. Ada peristiwa besar apa yang akan terjadi di pondok? Mungkinkah akan ada penyegelan? Sebab beberapa bulan sebelumnya Mbah Kyai Suprih pernah kedatangan tamu dari kepolisian. Bahkan, diberitakan di televisi, pondok pesantren asuhan Mbah Kyai Suprih digeledah polisi. Waktu itu isu teroris masih hangat-hangatnya.

banner 740x140

Dengan enteng Mbah Kyai Suprih menjawab pertanyaan wartawan, “Ini hanya silaturahmi biasa. Tidak ada yang khusus. Pak Kapolres hanya ingin mengenal lebih dekat dengan kami.”

Tetapi sayang, pernyataan itu tak dimunculkan televisi. Bahkan, tidak dimuat pula di koran-koran. Yang dimuat hanya sepenggal. Yaitu komentar Mbah Kyai soal isu teroris. Tulis koran, Mbah Kyai bilang, “Pondok pesantren itu bukan tempat mencetak teroris. Tetapi, tempat mendidik santri untuk berakhlakul karimah. Jadi, tidak benar jika ada doktrinasi tentang teroris.”

Sepintas, pernyataan itu tampak wajar. Tetapi, jika dibandingkan dengan porsi pemberitaan tentang dugaan keterlibatan pondok pesantren, pernyataan Mbah Kyai dikesankan seolah-olah sedang membela diri. Meski begitu, Mbah Kyai tak marah. Ia tersenyum ketika membaca koran.

Dugaan lain, ada kekhawatiran tentang penutupan pondok pesantren. Konon, ada desas-desus, kalau Mbah Kyai sudah tidak lagi mampu mengelola pondok pesantren asuhannya itu. Dari tahun ke tahun jumlah santrinya terus merosot. Yang terakhir, hanya ada tiga belas orang santri yang masuk. Itupun dari kalangan masyarakat miskin.

“Tidak apa. Tiga belas juga bagus. Itu namanya masih ada yang mau sinau,” ujar Mbah Kyai ketika menerima laporan dari pengelola.

“Tapi kan berat, Kyai,” kilah Gus Bany.

“Sekarang ambillah batu itu,” perintah Mbah Kyai Suprih.

Gus Bany hanya manut. Ia pungut sebongkah batu kecil. Digenggamnya batu itu di tangan kanannya.

“Jatuhkan.”

Gus Bany lagi-lagi hanya manut. Dijatuhkannya batu itu. Gerakan vertikal batu yang terlepas dari tangan Gus Bany tampak menunjukkan kepasrahan. Menghunjam ke tanah dan terasa betul beban pada batu itu. Jatuh.

“Sekarang kau perhatikan,” pinta Mbah Kyai Suprih sembari memungut batu yang dijatuhkan Gus Bany.

Dengan sepenuh tenaga Mbah Kyai Suprih melempar batu itu ke arah permukaan air sungai. Selintas, lemparan itu tampak membangun garis horisontal, tetapi tampak pula lengkungan yang tak terlalu menukik. Di atas permukaan air batu itu meloncat-loncat. Menyentuh permukaan air berkali-kali hingga mencapai seberang sungai.

“Jika diam batu tenggelam. Jika bergerak batu itu ringan melintas permukaan air. Itu artinya, berat itu relatif. Tidak matok. Paham?” jelas Mbah Kyai Suprih.

Gus Bany mengangguk.

“Maka, jangan sampai nasib menggoyahkan iman kita, sebab iman adalah tumpuan untuk setiap gerakan.”

Getaran suara Mbah Kyai melumpuhkan sekaligus melunakkan segala sanggahan. Ucapan Mbah Kyai telah merampok semua kosakata yang semula tertata rapi di dalam tempurung kepala Gus Bany. Menyerobot semua tanda tanya yang dibariskan begitu rapi. Tak ada lagi penggiliran tanda tanya itu. Habis sudah kata-kata.

***

Keyakinan Mbah Kyai setidaknya menjadi modal. Bahkan, karena keyakinan itu pula sebagian besar guru di pondok pesantrennya memilih tetap bertahan. Kendati begitu, ada yang kemudian keluar. Tetapi, Mbah Kyai Suprih tidak mempermasalahkan. Baginya, setiap pilihan itu adalah jalan. Jalan menuju Yang Satu.

“Kita tidak bisa memaksa orang untuk tetap bertahan. Pondok ini hanya semacam lintasan. Panjang-pendeknya tak terukur. Maka, boleh-boleh saja mereka melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Siapa tahu bertambah pengalaman hidup mereka, bertambah pula tingkat keimanan mereka. Karena kekayaan yang sesungguhnya adalah pengalaman yang diamalkan,” kata Mbah Kyai Suprih ketika mendengar laporan tentang keluarnya beberapa guru.

“Maaf, Kyai, apa dengan keluarnya mereka itu tidak ada niat Kyai untuk mencari pengganti atau menambah jumlah guru?”

Mbah Kyai tak berkata-kata. Ia hanya meminta Gus Bany berdiri dan membukakan pintu ruang tamu. Lalu bertanya, “Masih sumuk?”

“Tidak Kyai.”

“Itu jawabanku.”

***

Ada juga yang menduga, tindakan Mbah Kyai sebagai isyarat tersembunyi. Semacam tanda. Tetapi, untuk yang satu ini buru-buru para guru dan juga santri menghapus pikiran yang tidak-tidak. Mereka berbondong-bondong menuju masjid. Mengambil wudlu, bermaksud melaksanakan shalat taubat. Memohon ampun dari Gusti Allah.

Tetapi, ketika mereka memasuki serambi masjid, tampak oleh mereka Mbah Kyai Suprih yang tengah duduk-duduk di dalam masjid. Mereka pun segera mendekati Mbah Kyai, berebut salim dan mencium tangannya. Menyaksikan itu, Mbah Kyai Suprih geli. Lalu, ia meminta semuanya duduk dan tenang.

Kini, Mbah Kyai mengedarkan pandangannya. Satu-satu dipandangnya. Wajah para santri dan guru itu tertunduk. Tetapi, terdengar ada suara napas yang tersengal-sengal seperti menahan tangis.

“Kenapa kalian ini? Ada apa?” tanya Mbah Kyai Suprih.

Wajah para santri dan guru kian menunduk mendengar ucapan Mbah Kyai.

“Coba Gus Sofyan, tolong jelaskan padaku, apa maksud dari semua ini?” pinta Mbah Kyai Suprih.

Gus Sofyan yang duduk di deret depan seketika terkejut. Segera ia menata diri. Menata kata-kata yang akan ia luncurkan. Ia tidak ingin kata-kata yang diucapkannya itu menyinggung perasaan Mbah Kyai. Katup mulutnya pelan mulai digerakkan.

“Maaf Kyai, kami sudah lancang. Kami khilaf,” ucapnya.

Mbah Kyai Suprih tersenyum, “Pelan saja Gus. Pelan. Agar aku bisa mendengar dengan baik. Juga yang lain.”

“Tadi, waktu Kyai  memberi pengumuman, kami sempat berpikiran buruk tentang Kyai,” jelas Gus Sofyan.

“Berpikir buruk apa?” nada suara Mbah Kyai Suprih terdengar datar dan tenang.

“Maaf Kyai, kami…. Kami…,” Gus Sofyan tampak kebingungan. Tak tahu harus dengan kalimat apa ia melanjutkan pembicaraannya.

Sementara Mbah Kyai Suprih hanya manggut-manggut. Tatapannya tetap teduh. Seperti memberi isyarat kepada Gus Sofyan agar tidak takut mengatakan yang sesungguhnya.

“Maaf Kyai, saya tidak sanggup menjelaskannya. Mungkin Gus Bany yang bisa menjelaskan pada Kyai,” ucap Gus Sofyan.

Senyum Mbah Kyai Suprih makin mengembang. Lalu dengan nada yang tetap datar ia berkata, “Gus… Gus, peyan itu diminta mengangkat batu kok malah dilempar ke orang lain. Ya, kalau orang yang sampeyan pasrahi itu kuat, kalau tidak? Bisa-bisa batu itu malah membebani. Mungkin juga malah menggencet tubuhnya.”

Sejenak Mbah Kyai Suprih menghela napas, kemudian sedikit menegakkan badannya. Lalu, kembali melanjutkan tuturannya.

“Aku kira, Gus Bany tak perlu menjelaskan. Aku tahu yang kalian pikirkan. Tetapi sekali lagi, di dunia ini tak perlu ada yang ditakuti, kecuali Dia. Tak ada jaminan kalau aku tetap hidup kalian selamat. Begitu pula tak ada jaminan aku selamat ketika aku mati. Perguliran dan penggiliran itu hal biasa. Jadi, tak perlu dirisaukan,” kata-kata itu diucapkan Mbah Kyai Suprih dengan nada yang lembut.

“Sebaiknya sekarang kalian percantiklah lingkungan kita ini. Yang punya tenaga lebih, bisa bantu angkat-angkat. Menata bangku-bangku yang ada di halaman atau pot-pot tanaman yang perlu ditata. Yang lain bisa bersih-bersih. Setelah semua selesai, kembali ke sini lagi, ya?!” ucap Mbah Kyai Suprih dengan senyuman.

Serta merta seluruh santri dan para guru menyibukkan diri membenahi lingkungan pondok pesantren. Sementara, Mbah Kyai Suprih segera menuju taman di halaman rumahnya. Menyirami tanaman bunga yang tumbuh liar di taman itu.

 

***

 

Kini, seluruh bagian pondok pesantren itu tampak bersih dan indah. Sangat nyaman dipandang. Di teras masjid, tampak Mbah Kyai Suprih menikmati hasil kerja para santri dan guru. Halaman pondok jadi lebih indah dan rapi. Begitu asri.

Satu persatu para santri dan guru mulai kembali masuk ke masjid. Di teras masjid itu Mbah Kyai Suprih menyambut mereka dengan senyum yang sumringah. Begitu ramah. Mereka menyalami Mbah Kyai Suprih. Lalu, segera disilakan masuk masjid. Mereka duduk rapi membentuk barisan melingkar.

Tetapi, mereka tampak masih gelisah. Segala pikiran buruk itu masih tersisa dalam benak mereka. Pikiran-pikiran buruk itu bahkan masih saja bergentayangan tak karuan. Mereka belum benar-benar bisa menghapus pikiran-pikiran buruk itu.

Tak lama Mbah Kyai Suprih masuk ke dalam serambi. Sejenak setelah duduk, ia menatap satu-satu wajah para santri dan guru. Mbah Kyai hanya tersenyum. Lalu berkata, “Jika kita bisa dengan rela meninggalkan sandal yang kotor itu di halaman masjid tanpa paksaan, lalu mengapa sulit kita tanggalkan sejenak pikiran kotor?”

Ucapan itu seketika membuat seluruh yang hadir terhenyak. Buru-buru mereka menghapus pikiran-pikiran buruk itu. Mengusirnya jauh-jauh, keluar dari ruang pikiran mereka. Sekalipun susah, mereka tampak berusaha keras mengusirnya.

“Kita ini tuan rumah bagi pikiran kita, maka sebaik-baiknya tuan rumah, ia tidak akan memelihara yang buruk di dalam rumah pikiran kita. Bukan begitu?”

Semua mengangguk.

“Nah, aku minta kalian jadilah tuan rumah pikiran yang baik,” Mbah Kyai Suprih menjeda kata-katanya sejenak. Sengaja itu dilakukan agar ada ruang kosong yang bisa dimanfaatkan untuk menetralkan pikiran para santri dan guru. “Sekarang, kalian berdirilah. Sebentar lagi ada tamu agung.”

Semua lantas berdiri. Beberapa tampak menoleh ke arah pintu masuk masjid. Tetapi, tak ada yang mereka lihat. Tamu yang dijanjikan akan hadir itu belum juga tampak. Makin besar rasa ingin tahu mereka, makin banyak pasang mata yang tertuju pada pintu masuk.

“Lho kalian itu cari apa? Cari siapa?” tanya Mbah Kyai.

Seketika itu, suara Mbah Kyai Suprih membuat seluruh hadirin terkejut. Pandangan mereka berbalik ke arah Mbah Kyai.

“Tamunya sudah di sini. Itu!” Mbah Kyai Suprih menunjuk ke arah orang yang dituju. Ia berdiri di antara para santri dan guru. Lalu, segera Mbah Kyai mendekati tamu agung itu. Menjabat tangan dan berangkulan. Kemudian, mempersilakan untuk duduk di depan bersamanya.

Ada rasa heran pada para santri dan guru. Tamu agung itu sangat mereka kenal. Ia tidak lain adalah orang yang pernah membuat nama baik Mbah Kyai Suprih tercoreng. Di hadapan jamaah di suatu pengajian, orang yang kini duduk bersebelahan dengan Mbah Kyai itu melontarkan pernyataan yang tak pantas. Menjelek-jelekkan Mbah Kyai. Bahkan, mengkafirkan Mbah Kyai.

Tentu, ada perasaan marah yang dibalut dendam pada masa lalu. Tetapi, mereka tak sanggup berbuat banyak. Sikap lunak Mbah Kyai yang mengistimewakan tamu itu telah menciptakan benteng perlindungan baginya. Ada keinginan untuk menghajar, tetapi tertahan kepalan tangan mereka oleh kelembutan Mbah Kyai. Ya, sikap Mbah Kyai Suprih sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, kebencian, apalagi dendam. Sebaliknya, sikap Mbah Kyai Suprih justru menunjukkan cintanya yang besar kepada tamu agungnya itu.

Ia sadar, ada luka yang pernah tertoreh di hatinya. Luka yang tidak mungkin ia tolak. Tetapi, ia tak ingin menggarami luka itu kembali. Akan semakin sakit dan perih rasanya, jika luka itu kembali diungkit. Mbah Kyai Suprih tak ingin itu terjadi.

Pekalongan, 17 November 2015-25 November 2016

banner 340x140 banner 340x140