Hidung by Ribut Achwandi

oleh -
banner 340x110 banner 340x150

Bicara soal hidung, tak jarang kita terjebak hanya pada bentuk luarnya. Lalu, dari perbedaan bentuk itu, banyak orang yang terjebak pula ke dalam penilaian-penilaian yang cenderung “diskriminatif”. Bahwa hidung yang baik itu yang memiliki bentuk tertentu. Bahkan, penilaian itu pun membangun opini yang cenderung beraroma primordial yang negatif. Opini tentang keunggulan bangsa-bangsa tertentu yang selanjutnya mengerdilkan bangsa-bangsa lain. Ah, rasanya bukan itu. Ada hal lain yang mungkin lebih perlu untuk dipelajari. Yakni, tentang bagaimana hidung bekerja.

Mari pelan-pelan kita rasakan udara yang kita hirup. Rasakan betul. Ambil napas panjang. Rasakan persentuhan udara itu di dalam lubang hidung. Udara itu menggetarkan dan menggerakkan secara perlahan bulu-bulu hidung. Rasakan, bagaimana udara itu tersaring. Ada banyak partikel debu-debu halus tersangkut di sana. Partikel debu itu dijerat dan diikat oleh cairan getah bening yang dihasilkan Adenoid. Jaringan getah bening ini juga memproduksi sel penyerang virus atau makhluk-makhluk mikroskopik yang mengganggu. Ya, di dalam hidung kita rupanya hidup di sana makhluk-makhluk mikroskopik, bakteri. Ada yang melindungi, ada pula yang berusaha menjebol dinding pertahanan. Memaksa masuk dan membuat kekacauan di dalamnya. Bahkan, sangat mungkin membuat kekacauan pada tubuh kita. Ada juga virus yang mampir.

banner 740x140

Bisa kita bayangkan, ternyata di dalam hidung kita ada kehidupan kecil tetapi kompleks. Kehidupan kecil ini tak bisa diremehkan. Aku membayangkan, Adenoid itu seperti barak tentara. Dari sana selalu muncul pasukan penghalau bakteri-bakteri pengganggu. Ada sel yang berjaga. Ada pula yang tumbang. Tetapi, ada pengganti dari yang tumbang itu. Mereka maju ke medan laga. Menghalau para pengacau. Cobalah rasakan. Rasakan betul bagaimana mereka bekerja untuk kita.

Tentu, pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan ringan. Apalagi bagi kita yang tinggal di perkotaan. Udara telah dibebani dengan beraneka partikel yang berat. Nyaris kesegaran udara tak kuasa lagi menerobos partikel-partikel padat yang berterbangan bebas dan menyusup ke dalam celah-celah udara hingga hampir terbangun dinding yang rapat. Menjadi pemisah antara kita dengan udara segar itu.

Beruntunglah kita dikaruniai hidung. Sebab, mata kita tak mampu menangkap apa-apa yang kasatmata. Termasuk mikroorganisme atau partikel-partikel lembut yang bebas melayang-layang di udara. Andai mata kita mampu menangkap itu semua, mungkin kita akan lari terbirit-birit menjauhi kehidupan kota atau membabat habis apa saja yang mencemari udara. Tetapi, mungkinkah? Mungkinkah kita akan tahan hidup dalam kesenyapan? Sanggupkah?

Mungkin ada yang sanggup, tetapi tak banyak. Tinggallah kini sebuah pertanyaan besar, bagaimana kita akan menyikapi pencemaran itu? Dan bagaimana kita akan kembali menyusun rencana tentang tata kelola lingkungan?

#ndleming

banner 350x350 banner 350x140