Duka Desa Pesta Kota (Ribut Achwandi)

oleh -132 views
banner 340x110 banner 340x150

jika desa adalah lahan karya

kota mestinya ladang harapan
memancarkan cahaya gemilang
hingga ke pelosok-pelosok
kemakmuran kota mestinya
menjadi kemakmuran desa-desa
sejahteranya kota mestinya
menjadi berkah bagi desa-desa

banner 740x140

ya, kota hanyalah buah kasih sayang
yang dipetik dari kebijaksanaan desa
yang setia dengan sepenuh daya
memelihara dan menumbuhkan kota
sebab desa adalah ibu bapa bagi kota
dari rahimnya kota dilahirkan
dari cucuran keringatnya kota dibesarkan
dari kaki tangannya kota diasuh
dengan doa-doa mereka kota diayomi

kini, kota tumbuh makin besar
ia asyik dengan mainannya sendiri
mula-mula sang ibu senang melihatnya
berlarian sambil tertawa sambil menenteng
mainan baru yang ia dapat
di atas batu gunung, sang bapa tersenyum
ada roman bangga pada diri sang bapa
oleh sebab kota tumbuh dengan cepat
pintar, tangkas, dan mudah bergaul
apalagi ketika tersiar kabar,
kota lulus ujian dan diterima bekerja
di perusahaan besar milik orang asing
gajinya, boleh ia gunakan naik haji
berkali-kali

ibu bapa merasa beruntung
tidak perlu mengajak kota membajak sawah
tak perlu mengajarinya cara mencangkul
mereka bangga anaknya berjas
lengkap dengan dasi dan sepatu mengkilap
apalagi ketika mereka tahu, kabar tentang
teken kontrak dengan beberapa pemodal
membuka lahan untuk para pekerja baru
tambah senanglah hati ibu bapa
sebab, akan ada banyak saudaranya
yang akan mengisi tempat kerja baru itu

lahan sawah milik bapa pun direlakan
ladang yang biasa jadi kesibukan sang ibu
ketika menunggu musim panen tiba
pun dilepaskan dengan ikhlas
semua diberikan sebagai cinta mereka
pada anaknya yang tumbuh dengan pesat

di waktu malam, ibu bapa terus berdoa
seraya berucap syukur atas rahmat Tuhan
kota kini telah menjadi anak yang berguna
betapa salehnya kota, mulia baktinya
kepada desa yang telah membesarkannya
haru membiru, ibu bapa dalam doa
meneteskan airmata kebahagiaan

esok pagi, ibu bapa menjenguknya
dibawanya hasil panen kebun dan sawah
tiba di pasar dihadang para penjaga
pasar yang biasa menjadi tempat singgah
orang-orang desa pembawa berkah disegel
sebuah buldozer siap meratakan
segepok rupiah siap menyulap pasar
menjadi bangunan megah bertingkat-tingkat
berkotak-kotak sayur buah dan beras impor
siap memenuhi setiap lapak

pupus sudah harapan ibu bapa
bertemu sang anak yang telah ia besarkan
dengan segala keluhuran kebijaksanaan
nenek moyang mereka
pulanglah dengan kehampaan

tiba di perbatasan,
sawah ladang mereka ludes
tiang-tiang pancang telah ditancapkan
para cukong berdiri ngangkang
di atas lahan yang mereka beli
dengan harga murah
siap meneguk keuntungan berlipat-lipat
kemurahan hati desa dihargai
tanpa penghormatan sebagai ibu bapa
dari kota yang telah dilahirkan dan dibesarkan

tak kuasa membendung airmata
sang ibu bersimpuh menangis
sementara sang bapa kehilangan tenaga
tangannya tak kuasa mengepal lagi
mereka tak mampu mengucapkan kutukan
bagi kota yang telah dibesarkan dengan
sepenuh rasa kasih sayang
sebab, mereka tahu kutukan orangtua
akan menghancurkan kehidupan anaknya
yang masih tumbuh tanpa mengerti
apa itu makna kehidupan
oh, celaka!

Pekalongan, 24 Juli 2017

banner 340x140 banner 350x140