Bandengan Menuju Kampung Ramah Anak

oleh -

PEKALONGAN – Kelurahan Bandengan akan dijadikan percontohan lingkungan ramah anak di Kota Pekalongan. Oleh karenanya, sejak dini dilakukan pelatihan pada orang tua terkait cara mengasuh dan mendidik anak. Menurut Ketua DPRD Balgis Diab bahwa yang dimaksud anak adalah mereka yang berusia antara 0-16 tahun. Mereka seharusnya Sebelum mendapatkan pendidikan akademis, anak semestinya mendapatkan pendidikan emosi yang cukup sejak mereka lahir hingga usia 8 tahun. Kebutuhan didengarkan perasaannya, pengenalan emosinya hingga penerimaan terhadap perasaan dan diri sang anak.
“Ketidakmatangan emosi ditambah beban sekolah yang sangat berat, menghasilkan dampak yang sangat merugikan. Hal ini membuat terjadinya ketidakseimbangan Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient(SQ) sang anak. Akhirnya anak tumbuh menjadi sosok yang agresif dan selalu mencari ruang untuk menyalurkan emosi mereka diluar rumah,” ungkap Balgis saat menyampaikan materi pada acara Pelatihan Kampung Ramah Anak 2018 di Kelurahan Bandengan Selasa (30/1).
Dikatakan Konsep lingkungan ramah anak ini sebenarnya sudah sejak lama ada. Karena isyu ini telah menjadi isyu sentral di kota-kota besar lainnya di Indonesia ,bahkan di dunia sejak beberapa tahun terakhir. Kota yang baik adalah kota yang bisa memberikan akses kemudahan, kenyamanan, keamanan dan adil bagiseluruh warganya serta dapat meningkatkan vitalitas, sumber dayaserta potensi yang ada di masyarakat dan wilayah. Dalam pengertian yang lebih rinci dapat dinyatakan bahwa kebutuhan anak adalah bermain dan belajar.
“Konsep lingkungan ramah anak, merupakan sebuah gerakan pencerahan budaya yang sangat tepat. Terutama dalam mendesign penciptaan lingkungan yang mencirikan dinamisasi, yang sesuai dengan karakter seorang anak. Mengapa? Karena sebuah lingkunganyang peduli dengan kepentingan anak, tentu saja telah pula mengakses kepentingan sebuah keluarga. Sehingga secara lebih luas lagi dapat memberikan suasana kondusif bagi interaksi masyarakat sebagai sebuah kelompok terbesar dalam sebuah wilayah.”
Dijelaskan lingkungan yang ramah, artinya lingkungan yang menghadirkan suasana yang aman, nyaman, ramah, dan berbudaya. “Kesimpulanya, Sudah saatnya peran anak ditingkatkan kualitasnya, terutama dalam mendesign sebuah kampung/lingkungan guna meningkatkan kualitas pendidikan dan karakter sebuah daerah atau bangsa. Agar budaya menghargai beda pendapat dapat diterapkan. Akibat positifnya budaya harga menghargai dan budaya bermufakat untuk kepentingan bersama bagi kebaikan dapat dikembangkan sejak dini. Semoga diawali dari Bandengan, Kota Pekalongan bakal menjadi Kota Ramah Anak” tandas Balgis. (*)