AKU BERBISIK oleh Ribut Achwandi

oleh -

Mungkin benar, kau akan kaya. Sebab, kedatangan mereka mula-mula membawa berkarung-karung harta. Menjanjikan sesuatu yang mulanya tak kau miliki. Kekayaan. Tetapi, tahukah kamu, kekayaanmu itu tak akan bisa membeli kebahagiaan. Kau tak bebas membawa anak-anakmu masuk ke pantai. Untuk sekadar bermain pasir dan berlarian mengejar ombak, kau mesti menguras uang belanja istrimu. Tak bisa sembarang waktu kau mengajak anak-anakmu bermain di pantai. Kau harus menabung terlebih dahulu untuk berlibur di pantai. Atau, jangan-jangan sudah hilang pula pantai itu. Digantikan dengan istana-istana fantasi dengan harga yang membikin kering isi dompet.

Mungkin juga kau benar, bahwa kehadiran mereka menambah pendapatan daerah. Tetapi, apakah mungkin pendapatan daerah itu akan dibagikan cuma-cuma untuk biaya piknik setiap keluarga yang dulu tinggal di sekitar pantai? Apakah mungkin pula pendapatan daerah itu akan mengongkosi diskon besar-besaran untuk semua warga kota agar bisa masuk ke pantai itu dengan harga yang murah? Mungkinkah? Atau mungkinkah penambahan pendapatan daerah itu bisa menebus kebahagiaan seluruh warga kota yang tak terbeli itu?

banner 800x611

Ya, kau bisa saja berkilah. Tanah mereka diharga mahal. Mereka bisa beli rumah baru, motor baru, bahkan mungkin mendadak bisa beli mobil baru. Tentu, kebaruan itu juga akan mempertebal angka pendapatan daerah lewat pajak-pajak. Pajak tanah dan bangunan, pajak motor, pajak mobil. Tetapi, bagaimana dengan pendapatan mereka yang mungkin saja harus beralih pekerjaan? Ya, kalau dapat kerja segera. Kalau tidak?

Oh, iya… betul. Uang hasil penjualan tanah mereka mungkin saja masih bersisa. Bisa buat menyambung nyawa. Tapi untuk berapa lama?

Mari, kita belajar berhitung lagi. Berapa lama pantai itu akan dicengkeram mereka yang menanam uangnya di bawah pasir pantai? Berapa pula uang yang dibuahkan dari hasil menanam itu, untuk sekian lamanya? Lantas, selama itu pula, warga pantai yang mula-mula melaut dan menghasilkan buah senyuman saat pulang disambut pelukan anak-istri mereka tak menghasilkan besaran yang sama dengan sebelumnya. Belum lagi, anak-anak mereka kelak kehilangan sejarah kelahirannya. Mereka tahu pantai adalah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, tetapi mereka kehilangan jejaknya di sana. Ari-ari yang ditanam di sebelah rumah mereka, enyah. Tak ada lagi panggilan kerinduan yang begitu syahdu mereka rasakan.

Ya, hitungan itu mungkin saja kau anggap bisa menyelesaikan persoalan. Tetapi, hitungan rasa, apa yang bisa dilunasi, selain kehilangan rasa?

Aku masih belum mengerti dengan bahasa yang bagaimana aku mengucapkan kegelisahan ini. Dan aku mengerti, apa yang kusampaikan ini akan dicibir. Tetapi, tak apalah. Toh, aku tak peduli dengan cibiran itu. Kalaupun dianggap memusuhi, itu artinya ada pikiran yang keliru. Sama sekali, tak ada niat memusuhi orang. Telinga para pemangku kuasa, sesekali perlu dibisiki. Karena teriakan pasti akan dibalas dengan pukulan. Ya, aku hanya berbisik.

Jujurlah kamu. Ini bukan sekadar lima tahun atau sepuluh tahun. Mungkin ratusan tahun yang akan datang. Atau selamanya, pantai itu tak lagi menjadi milik warga. Siapa yang diuntungkan? Dompet mana yang tiap bulan akan terisi lembar-lembar upeti? Yang jelas, bukan dompet warga biasa.

Ya… aku tahu. Bahwa kaya itu hak setiap orang. Tetapi, apabila kekayaan menimbulkan kesenjangan, itu meresahkan. Rawan terjadi bencana kemanusiaan.

Oh ya, maksudmu baik memang. Mengatasi bencana alam. Tetapi, kumohon jangan lantas menjadikan upaya itu justru melahirkan bencana kemanusiaan. Apalah jadinya kehormatanmu jika tahta yang kau duduki justru membuahkan bencana kemanusiaan? Kamu orang terhormat. Ah, aku kira tak pantas aku menasihatimu yang terhormat. Sebab, biasanya orang terhormat mengerti ukuran-ukuran yang wajar.

Aku hanya berbisik. Semoga bukan berisik yang kau tangkap. Selamat menunaikan ibadah kepemimpinan, wahai yang terhormat.

#parabajingan