Walikota : Semua Harus Sinergi Atasi Pencemaran Sungai

oleh

PEKALONGAN – Kota Pekalongan menjadi tuan rumah Konferensi Sungai Asia (KSA) tahun 2018 yang digelar di Hotel Pesona Kota Pekalongan, Kamis (8/11). KSA ini akan digelar selama dua hari dan menjadi serangkaian Festival Kali Loji ini diselenggarakan sampai dengan Jumat (9/11/2018) dengan beberapa sesi diskusi dan workshop.

KSA melibatkan berbagai komunitas peduli atau pecinta sungai dari berbagai daerah di nusantara dan dihadiri oleh Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Jawa Tengah, Walikota Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, Forkopimda, jajaran OPD di Kota Pekalongan, dan Asisten I Bupati Pekalongan.

Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi Jawa Tengah, Peni Rahayu menyampaikan bahwa sungai selain sebagai ekosistem strategis juga untuk mengembalikan fungsi pengembangan sungai. Kepedulian terhadap sungai seperti sekolah sungai yang ada di Klaten, Sragi, dan Boyolali ini semoga membawa semangat positif dan kemanfaatan. “Kesadaran masyarakat yang perlu digalakkan, sehingga tidak terjadi masalah klasik seperti kekeringan dan banjir. Peran masyarakat untuk turut mengelola sungai sangat diperlukan,” tutur Peni.

Walikota Pekalongan, HM Saelany Mahfudz berharap adanya KSA ini menjadi tindak lanjut kerja sama pada Hari Batik Nasional untuk terus berkomitmen sinergi menanggulangi pencemaran. Dalam pembangunan Kota Pekalongan tentu membutuhkan kerjasama dengan Kabupaten Pekalongan. “Kesadaran dan keikutsertaan warga dalam menanggulangi pencemaran sangat diperlukan. Saya juga mengapresiasi komunitas yang telah melakukan gerakan bersama peduli lingkungan,” papar Saelany.

Ketua DPRD Kota Pekalongan, Balgies Diab mengatakan bahwa komunitas peduli sungai adalah pahlawan pejuang sungai. Ia akan turut menyuarakan kepedulian ini sebagai penyampaian suara rakyat. “Saya mengapresiasi seluruh pihak untuk penyelenggaraan KSA ini. Dengan ini bisa jadi awal, agar sungai ke depannya tetap sehat, bahkan ke depannya DPRD siap membantu,” kata Balgies.

Balgies berpesan bahwa untuk mengatasi sungai ini harus ada sinergi tas, regulasi pengelolaan sungai harus jelas, dan untuk memperbaiki sungai harus diberikan otonomi penanganannya. “Saya berharap dukungan kepedulian ini tidak berhenti tapi juga bisa mengajak masyarakat berpartisipasi melakukan kampanye permanen peduli sungai dan lingkungan,” ujar Balgies.

Ketua Panitia KSA, Tri Nirmala Ningrum mengatakan bahwa ide KSA ini muncul karena adanya pertemuan komunitas peduli sungai yang prihatin dengan sungai-sungai yang tercemar. “Sungai merupakan sumber peradaban yang harus tetap dijaga. Malaysia dan Singapura mengimpor air, tetapi Indonesia yang kaya sumber daya alam ini prihatin dengan keadaan sungainya yang tercemar,” kata Tri.

KSA akan berlangsung seminar dengan berbagai narasumber. Ekstrak atau hasil pertemuan ini akan disuarakan. Agar para pemangku kepentingan dapat lebih sinergi menangani permasalahan lingkungan. (*)