Tepat 73 Tahun Lalu, Pekalongan Adalah Daerah Pertama yang Usir Jepang

oleh

Selepas ba’dal ashar sekitar pukul 4 sore, hari Sabtu 6 Oktober 1945. Jenazah korban keganasan tentara Jepang di Markas Kampetei, satu persatu di makamkan, di sebuah tanah di daerah Panjang (sekarang makam pahlawan Prawiro rekso Negoro).

Sore hari itu, Residen Banyumas, Ishaq Cokrohadisuryo, bersama penerjemah Saburo Tamuro & Kapten Nonaka dari Garnisun Banyumas, yang membawahi pasukan Jepang di Pekalongan datang. Mereka datang atas laporan Daidanco Iskandar Idris melalui telepon kepada Daidanco Sudirman mengenai kondisi di Pekalongan, paska bentrokan di Markas Kampetei (polisi rahasia jepang).

Mulai pukul 9 malam, dua orang perwira Jepang yang menyertai Residen Ishaq, kemudian mengadakan kontak dengan para opsir yang terkepung di Kampetei. Kapten Nonaka menyampaikan tuntutan rakyat Pekalongan, yang meminta dilakukan gencatan senjata & seluruh pasukan, warga sipil harus Jepang meninggalkan Pekalongan, & semua senjata diserahkan pada eks Peta.

Pukul 9 malam juga, para pemuda mulai mengalirkan kembali air ledeng & saluran telepon ke Kampetei, yang sebelumnya di blokir. Di kantor Kawedanan (sekarang KPP), para anggota Komite Nasional Indonesia Daerah Pekalongan & eks komandan Peta di Pekalongan Iskandar Idris berkumpul menyambut kedatangan residen Ishaq.

Iskandar & Residen Mr.Besar segera melaporkan kronologis kejadian kepada Residen Banyumas Ishaq.

Sebelumnya ditempat terpisah,  selepas Magrib para ulama mengelar doa bersama di seluruh masjid & mushola di Pekalongan dan sekitarnya. Untuk mendoakan supaya Jepang segera meninggalkan wilayah Pekalongan. Sekitar pukul 11 malam, seorang staf Shuchocan (Residen) Tokonami, datang ke kantor Kawedanan memberitahu bahwa militer Jepang menerima persyaratan meninggalkan Pekalongan. Perundingan proses keamanan warga Jepang, dilakukan oleh Komandan Garnisun Peta di Pekalongan dengan Kapten T.Oka, bersama beberapa orang. Keduanya menyepakati bahwa personel militer Jepang di Pekalongan bersama warga sipil akan di bawa ke Banyumas dengan mengunakan truk yang disediakan oleh BKR.
Dengan demikian Pekalongan merupakan daerah pertama di seluruh Indonesia, yang bebas dari kekuasaan Jepang pada 7 Oktober 1945. (Dirhamsyah)

banner 800x320