Simalakama Perajin Batik Pekalongan

oleh

PEKALONGAN – Pengrajin batik Kota/Kabupaten Pekalongan akhir-akhir ini menghadapi persoalan cukup pelik. Ya, para pengrajin bagaikan dihadapkan pada buah Simalakama. Pasalnya, disatu sisi harus terus berkarya dan produksi untuk meningkatkan omset sertta pelastarian Batik, disisi lain ketersediaan bahan baku dikuasai segelintir orang. Sehingga kelangkaan bahan baku batik menyebabkan tingginya harga dipasaran. Mau tidak mau para pengrajin harus menerima kenyataan pahit.
Oleh karenanya, Pekalongan dan Forum Kota Kreatif Pekalongan (PCCF) mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan untuk melakukan intervensi supaya tetap menjaga ketersediaan bahan baku batik.
Menurut Ketua PCCF Zahir Widadi, kondisi dilapangan sungguh memprihatinkan. Dimana para pengrajin sangat kesulitan mendapatkan bahan baku batik dengan harga standar. “Bahan baku mori batik di kota Pekalongan (Jenis bahan baku mori, Jalur distribusi, kestabilan harga dan kualitas) mutlak dibutuhkan. Namun Sering terjadi Kekosongan dan kelangkaan Mori batik di pasaran, dan setelah muncul kembali ternyata harganya lebih mahal. Perlu diketahui, Banyak Daerah masih menggantungkan keberadaan bahan baku batik di Pekalongan. Praktis, Kondisi ini telah menjerat UMKM batik mengikuti harga yang telah ditetapkan oleh Penyedia Mori Batik,” katanya.
Karenanya, sangat dibutuhkan payung hukum untuk mengatasi persoalan ketersediaan bahan baku batik. “Alhamdulillah, kemarin DPRD siap mendukung langkah para pengrajin dengan menyusun Raperda. Sebab pada gilirannya Perda itu bakal mengatur soal jenis bahan baku , rantai distribusi, harga dan penyalur bahan baku batik di berbagai daerah. Juga menentukan Regulasi/Peraturan untuk menjaga Ketersedian bahan baku batik , Selain itu perlu juga dipertimbangan untuk menetapkan regulasi batik Standarisasi Jenis-jenis bahan baku batik dan selanjutnya dapat menjaga keberlangsungan usaha batik dan Ketentuan membentuk Lembaga, Koperasi atau Perusda,” kata Zahir seraya menambahkan bahwa nilai bahan baku batik yang dibutuhkan para pengrajin setiap tahunnya mencapai angka yang fantastis. Yakni Rp 1,7 triliun atau lebih dari 700 miliar dibandingkan APBD Kota Pekalongan.
Sementara Wakil Ketua I PCCF Very Yudianto mengatakan kenaikan harga baku batik yang diawalahi dengan kelangkaan dipasaran memang bisa mengancam kelangsungan usaha batik sebab harga jual batik di pasaran masih tetap. “Idealnya, harga per lembar batik harus naik dengan adanya kenaikan harga bahan baku tetapi para pengrajin tidak berani menaikan harga produksi,” katanya.
Ia mengaku, perajin takut menaikan harga produksi batik karena mereka khawatir produksinya tidak laku di pasaran, sedangkan di sisi lain usaha ini harus tetap bisa bertahan. “Saat ini, industri batik sedang dihadapkan pada masalah yang dilematis sehingga kami cukup resah dengan adanya kenaikan harga bahan baku batik. Untuk itu pihaknya mendukung langkah PCCF supaya batik tetap eksis,” katanya. (*)