Sejarah Mylpaal di Kota Pekalongan

oleh

Tugu mylpaal yang posisinya ada di sekitar Lapangan Jetayu, sebelah Timur menjorok ke Selatan ini merupakan bagian peninggalan proyek pembangunan jalan raya pos atau De Grote Post Weeg yang dibangun oleh Gubernur Harmen Willam Deandles.

Dalam bahasa Belanda mylpaal  merupakan  rangkaian kata dari dua suku kata yaitu Myl dan Paal, Myl  yang berarti  satuan panjang ( 1 mil = 1, 609 km ) sedangkan Paal memiliki berati tiang penanda. Sehingga dapat diartikan bahwa Mylpaal merupakan titik nol kilometer dari Kota Pekalongan, misalnya dengan penghitungan dari Jetayu ke arah pantai, maka hitungannya nolnya mulainya dari tugu tersebut.

Selama ini banyak pihak menyebut bahwa dengan keberadaan mylpaal ini  Pekalongan disebut sebagai poros tengah Pulau Jawa,  tetapi dengan penghitungan hanya mengunakan rel kereta api, sangat tidak relevan. Jarak antara Pekalongan ke paling ujung barat pulau Jawa atau  ke Ujung Kulon mencapai sekitar 571,3 km. Sedangkan jarak Pekalongan hingga ke ujung  Timur Pulau Jawa atau di Alas Baluran Banyuwangi mencapai 679,4 km. Sementara dengan penghitungan antara Pekalongan dengan Anyer jaraknya 473,4 km dan Pekalongan ke Panarukan mencapai 623,0 km. Berdasarkan hal inilah, amat sulit menentukan Pekalongan sebagai poros Pulau Jawa.

Gubernur Herman Willems Deandles pada bulan Mei 1808,  telah memerintahkan pembangunan jalan dari Ujung Barat (Anyer) sampai Ujung Timur (Panarukan) yang jaraknya mencapai 600 paal (1 pal = 1,5 km) atau hampir 1.000 kilometer. Direncanakan jalan ini mencapai lebar dua roed (1 roed = 3,767 m2) atau jika medan memungkinkan lebarnya menjadi 7,5 meter. Dan pada bulan Agustus tahun 1809, pembangunan jalan  darat  ini  telah sampai ke wilayah Pekalongan.

Pada saat Deandles datang ke Pekalongan, Ia menghapuskan keberadaan Kadipaten Wiradesa untuk kemudian berada di bawah kadipaten Pekalongan. Hal ini terungkap dalam dokumen VOC yang tersimpan di ANRI, 3 Juni 1809.

Deandles membangunan jalan raya pos yang menghubungkan antara Anyer hingga Panarukan. Proses pembangunanya sudah sampai di wilayah Pekalongan, pada tahun 1809. Tetapi pada saat itu Deandles mulai kehabisan dana, untuk meneruskan hingga ke Panarukan. Tetapi Deandles tetap bertekad untuk tetap bisa melanjutkan pembangunan jalan itu.

Kemudian Deandles  meminta sokongan secara paksa pada para Bupati di Pesisir Pulau Jawa untuk membantunya. Para Regent atau Bupati atau penguasa daerah dikumpulkan di wilayah Semarang. Deandles memaksa mereka, mengerahkan tenaga untuk membantu pembangunan jalan, dengan memanfaatkan sistem feodal antara Bupati dengan rakyatnya.  Pada jalan yang dibuat oleh Deandles,  dari arah Tegal menuju Pekalongan hingga menuju ke Semarang harus melaui Alas Gambiran dan Alas Roban.

Pembangunan jalan ini banyak menelan korban karena wilayah Pesisir Pulau Jawa, pada waktu itu sebagian besar masih hutan belantara. Tantangan terbesarnya adalah nyamuk yang menyebabkan penyakit malaria.

Deandles bukan yang mengawali pembangunan jalan tetapi hanya meningkatkan kualitas jalan, sebab jalan antara Surabaya hingga ke Pekalongan sudah ada. Jalan ini pernah digunakan oleh Nicolas Engelhaard bersama pasukannya memadamkan pembrontakan Bagus Rangin di Cirebon.

Jauh sebelum itu, Pada Abad XVI, wilayah Pekalongan dan sekitarnya merupakan daerah yang  masih sedikit jumlah penduduknya, sebab sebagian besar wilayahnya masih tertutup hutan belantara.  Sementara di wilayah lainnya seperti Demak, Jepara, Kudus, Pati telah berkembang menjadi daerah penting.

Wilayah Pantai Pekalongan berkembang setelah wilayah pedalaman yang terletak di daerah perbukitan yang  tumbuh menjadi pedesaan yang makmur. Tom Pires menyebut daerahnya sudah di kuasai oleh seorang pangeran Muslim dari Demak. (Djoko Suryo, Pekalongan : Dari Desa Pesisir ke Kota Modern,  Melacak Perjalanan Sejarah Sebuah Kota di Pesisir Pantai Utara Jawa).

Pada era Mataram, Panembahan Senopati telah membangun sebuah jalur Pantai Utara dari Plered ke arah Cirebon, melaui Temanggung, Subah, Alas Roban,  Alas Gambiran, Pemalang, Tegal hingga Cirebon.

Sementara  Fruin Mees, dalam bukunya yang berjudul De Geschiedenis van Java jilid  II,  sudah menyebut  adanya rute perjalanan yang ditempuh oleh  para utusan  VOC. untuk  bertemu dan beraudiensi dengan Sultan Agung di Kerto yang merupakan pusat dari Ibukota Mataram.

Dari Batavia para utusan VOC itu,  kemudian naik perahu dengan tujuan Pelabuhan Tegal dengan melewati  Cirebon dan dari sana lalu mereka naik kuda ke timur lewat Sumber, Tegal, Pemalang, Wiradesa, Pekalongan, Batang, Subah. Kemudian masuk kepedalaman Jawa Tengah, dengan mendaki lereng Gunung Pakiswiring, Larangan, Tajem yang kemudian turun menyusuri pinggir Kali Progo lewat Jumo, Pakis, Payaman, Tidar , Sukerwe, Turen, Ariapati, Minggir dan Pingit yang letaknya sekitar dua jam perjalanan dari Kerto, Ibukota Mataram.

Sementara pada dokumen sejarah dari rute pos pertama di Jawa,  Gubernur Willem Baron Van Imhof, 26 Agustus 1746 membangun rute pos pertama dengan membangun Kantor Pos di Batavia  dan Semarang. Rutenya melalui Kerawang, Cirebon, Pekalongan.  Ketiga daerah ini menjadi pos tunda, sebagai tempat ganti kuda dari kereta yang membawa kiriman pesan melaui pos.

Sedangkan Willem Hendrik van Ossenberg,  dalam laporannya ditulis kata Paccalongan in Tegal. Menurut Boombgaard,  Residen Ossenberg  1754 mengadakan perjalanan dari Semarang menuju ke Tegal.  Setalah berkunjung ke Kaliwunggu, Kendal  dan Weleri. Ia lalu datang ke Batang untuk mengunjungi pabrik gula milik Kapiten Tionghoa dari Semarang, Tan Janko. Setelah itu Ia pergi ke Pekalongan, Wiradesa dan Ulujami.

Peningkatan pembangunan jalan raya pos, telah menyebabkan terjadinya peningkatan hasil perkebunan di Jawa, terutama gula dan kopi. Sementara dari sisi penghitungan militer, mobilisasi pasukan dari Semarang hingga ke Bogor bisa ditempuh dengan waktu sekitar 6 hari, padahal sebelumnya jarak tempuhnya mencapai 14 hari.  ( Moch.Dirhamsyah, Pegiat Sejarah Pekalongan)