Sejahtera yang Utopis by Buya Habibullah Ichsani

Mungkin masih sangat hangat ditelinga kita. Beberapa hari yang lalu, headline koran kompas bertajuk musibah yang dialami oleh masyarakat di tanah timur bangsa ini. Musibah yang sampai merenggut puluhan jiwa tunas bangsa. Serta mengancam puluhan bakal tunas bangsa yang masih dikandung oleh ibunya. Kenaikan taraf ekonomi yang menjadi wacana parlemen pada masa kampanye, seolah hanya tertuang dalam bentuk beton-beton. Pada bidang tanah sebelah, bebera waktu yang lalu. Beramai-ramai diproklamirkan adanya pembukaan jalan raya bebas hambatan yang bisa menghubungkan serta memperingan kerja sampan untuk mendistribusikan bahan makanan untuk masyarakat sekitarnya.
Beberapa waktu yang lalu, kenapa kok masih ada kecelakaan yang kembali terjadi. Akankah kejadian masa dulu kembali terjadi. Para parlemen berteriak-teriak untuk menjaga idielogi pancasil, namun mengapa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tidak terealisasikan. Ada ormas yang dibekukan karena dianggap anti-Pancasila, pada kenyataannya parlemen sendiri tidak mengamalkan ideologi Pancasila. Swasembada pangan-pun hanya selesai pada rumah-rumah yang memiliki kwh listrik 1300. Sedang yang ber kwh 900 atau masih menggunakan api, swasembada hanya sebuah impian yang berjalan di waktu siang-bolong.
Pada 4 september 2014 koran kompas memberitakan bahwa, Presiden kita telah memproklamirkan dengan keyakinan penuh bahwa dalam 4 tahun swasembada pangan bisa diwujudkan. Saya jadi teringat beberapa artikel pada majalah forum yang dimiliki salah satu teman saya. Pada masa tahun 70-80 an, pemerintah mencanangkan bahwa pertanian tebu harus dilaksanakan agar ekonomi bangsa bisa naik drastis. Faktanya, para petani tebu mengalami kelaparan yang sangat jauh dari goal swasembada pangan.
Mungkin perihal tersebut sangat berbeda jauh, karena variablenya tidak sepadan. Namun, bila diperhatikan dengan seksama; jargon meningkatnya taraf ekonomi hanya sebatas strata sosial tertentu saja. Untuk keseluruhannya hanya sebagai mimpi-mimpi yang besar kemungkinan tidak terwujudkan. Pendidikan-pun tidak memberikan arahan dan pandangan yang jelas pada tunas bangsa. Sebagaimana cletukan opini kompas pada pekan pertama bulan ini.
Dimanakah mahasiswa masa kini? Ah, itu terlalu berat bagi saya untuk membahasnya. Bagaimana saya mampu, kelompok mahasiswa kini terlalu eksklusif dalam kehidupan nyata. Gapaian yang diangankan melulu sebatas menyukupi kebutuhan pribadinya. Maaf beribu maaf, memang masih ada banyak mahasiswa yang tidak seperti itu. Namun, tidak sedikit pula yang bertolak belakang. Parade olimpiade-olimpiade yang ada hanya meningkatkan mutu individualitas dari subjeknya. Adapun tranformasinya, bisakah dirasakan.
Sekitar dua hari kemarin, kompas mempersoalkan dana riset yang digelontorkan dari negara yang nominalnya terbilang fantastis; ternyata tidak memberikan dampak yang positif bagi kehidupan bangsa. Sebenarnya perihal ini dimana kekurangannya ? Indonesia tidak berkurang para subjek intelektualnya, baik dibidang akademis ataupun teologis. Akankah gambaran mbah Kunto dalam mushaf Muslim tanpa Masjid memang benar-benar terwujud? Atau senandung Raja Dangdut itu menjadi sebuah doa yang telah diamini oleh para penguasa dunai?
Sejahtera hanya sebatas ilusi, penyamarataan ekonomi sebagaimana digaungkan oleh para aktifis anti-kelas hanya jargon yang mereka sendiri tidak bisa mengaktualisasikannya. Ke-independensian yang diikrarkan tuntas terblokade beberapa jamuan kertas ringan. Teriakan idealis hanya dimiliki oleh mahasiswa sendiri-pun rasanya tidak baku. Project-project dari tuan tanah masih terlalu nikmat untuk diabaikan kata salah satu kawanku.
Masihkah sejahtera bisa diwujudkan? Sedang dalam perihal ekonomi, saat ada tuan tanah pasti akan ada para buruh atau budak yang siap bekerja setiap saat untuk menghasilkan sesuatu yang bisa memenuhi isi kantong dari tuan tanah tersebut. Bisakah perihal itu dinafikan dari dunia ini? Pasti para pakar akan mengatakan iya. Namun, saat kembali ditanya bagaimana caranya? Dengan seksama meraka akan mempresentasikan sesuai dengan apa yang akan bisa mewujudkan goal dari tuan tanah tuan tanah para pakar tersebut. Memang harga sebuah apel serta aneka rupa ngashobiyah sudah bukan lagi pola yang menarik untuk didalami. Karena perut sudah terlalu lapar untuk kembali menahan lagi dahaga yang berkepanjangan.

Please like and share..

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*