Polres Pekalongan Kota Gencar Razia Narkoba

oleh

KOTA – Polres Pekalongan Kota dalam kurun waktu sebulan terakhir berhasil mengungkap enam kasus narkoba. Hasil pengungkapan kasus tersebut, sebanyak tujuh tersangka dan barang bukti berhasil diamankan.

“Kasus narkoba yang berhasil Polres ungkap merupakan pengembangan dari tersangka yang sudah ditangkap sebelumnya dan ada juga laporan dari warga. Tersangka sebagian merupakan pemakai, sebagian lagi pengedar. Kami terus bekerja memberantas narkoba untuk menciptakan Kota Pekalongan bebas Narkoba,” terang Kapolres Pekalongan Kota AKBP Ferry Sandi Sitepu kepada wartawan di depan Mapolres Setempat, Jumat (14/9).

Dari keenam kasus, tertangkap pada 2 Agustus 2018 di SPBU Medono, tersangka berinisial AP warga Kota Pekalongan yang didapati menyimpan 6 butir Riklona dan 12 butir Alprazolan. Kemudian 5 Agustus tersangka berinisial W warga Bendakergon Kecamatan Pekalongan barat terbukti menyimpan 1 klip kecil plastik isi sabu-sabu dan 10 butir alprazolan. Adapula tersangka berinisial RS warga Panjang Wetan Kecamatan Pekalongan utara pada 8 Agustus berhasil dibekuk polisi karena menyimpan 229 alprazolan, 90 riklona, 147 pil merk Y, 480 pil merk TM, 192 dektro, dan uang tunai Rp. 200 ribu.

Selanjutnya pada 21 Agustus dua tersangka berinisail MS dan AM warga Kota Pekalongan diamankan dengan barang bukti 42 alprazolan, 224 Dextro san uang Tunai Rp. 1,095.000. Pada 30 Agustus tersangka berinisial SB warga Kota Pekalongan dibekuk karena membawa 3 bungkus sabu-sabu seberat 1,07 gram, 1 timbangan digital, dan 1 bong atau alat isap. Terakhir pelaku berinisial ASR warga Kota Pekalongan pada 1 September dicokok polisi karena membawa 1 paket sabu seberat 0,46 gram, 1 bong dan 2 korek api.

Menurut Kapolres tidak menutup kemungkinan transaksi narkoba dari salah satu ketujuh tersangka dikendalikan dari dalam lapas Pekalongan. Makanya Polres Pekalongan kota berupaya untuk melakukan pendalam terhadap kasus ini. sejauh ini Polres telah mengetahui mekanisme peredarannya,yakni konsumen memesan lewat sms kepada oknum di lapas kemudian dilanjutkan kepada jaringan mereka yang berada di luar lapas.

“Ketujuh tersangka bisa dijerat dengan ancaman hukuman dijerat dengan undang-undang narkotika tahun 1997, hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 12 tahun. Bisa juga dikenai pasal undang-undang narkotika dan psikotropika tahun 2009 ancaman kurungan penjara minimal 4 tahun dan maksimal 12 tahun,” terangnya.

Sementara salah satu tersangka RS warga Panjang Wetan mengaku nekat menjual obat-obatan terlarang karena sebagai tambahan uang jajan anaknya.”Saya menjual pil dextro, TM dan Y dengan menyasar para pekerja dengan menjual 20 ribu perpaket. Keuntungan buat jajan anak saja,” terangnya. Sedangkan tersangka ASR warga Tirto mengatakan mengkonsumsi sabu-sabu hanya sebagai pengilang pegel linu atau obat capek. “Sudah tujuh kali pesen mas,” pungkasnya.