Mars Unikal, Spirit Optimisme Kampus Kreatif

oleh

Agung Dewantono, (Mengenal lebih dekat sosok pencipta lagu Mars Unikal)

Pekalongan gudangnya orang-orang kreatif! Sepertinya slogan itu tidak berlebihan. Apalagi beberapa nama besar seperti sastrawan gaek sekaliber W.S. Rendra, Goenawan Mohammad, Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, dan seniman-seniman besar lain seperti Ebit G. Ade tak bisa lepas dari pengaruh atmosfer kota Batik ini. Meskipun sebagian dari mereka tidak lahir di Pekalongan, tetapi mereka memiliki ikatan emosi yang sangat kuat dengan kota kecil ini. Pengalaman W.S. Rendra, Taufik Ismail, Emha Ainun Najib dan Ebit G. Ade yang ditempa oleh peristiwa-peristiwa kesenian di kota Pekalongan kala itu, setidaknya telah memberi inspirasi bagi dunia kreatif mereka. Jadi, kalau ada yang bilang bahwa orang Pekalongan itu tidak kreatif adalah keliru. Bahkan, salah alamat.
Kreativitas orang Pekalongan bahkan sudah mendarah daging bagi orang-orang Pekalongan. Dunia kreatif Pekalongan ibarat sumber mata air yang terus mengalir lancar tanpa henti. Menganak sungai hingga menuju laut lepas. Maka tidaklah heran, jika dari kota kecil ini muncul seniman-seniman yang luar biasa. Salah satunya, Agung Dewantono.
Lewat kepekaan nada dan kepiawaian memainkan alat musik pria berkacamata ini terciptalah lagu Mars Universitas Pekalongan. Lagu itu sendiri diciptakannya saat ia masih menyandang status sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Pekalongan. Baginya, musik adalah hobi yang mengasyikkan.
Musik ibarat dimensi yang berbeda dari dunia nyata yang digelutinya sehari-hari. Di dalamnya, ada rasa, nuansa, dan emosi yang naik turun oleh permainan semua unsur. Seperti irama, birama, tempo, dinamik, dan akurasi permainan nada yang menciptakan harmoni. Mencipta sebuah karya musik seperti halnya membangun sebuah ruang di alam imajiner.
Begitu pula saat ia menciptakan lagu Mars Universitas Pekalongan. Bermula dari hobi, lelaki dengan wajah rupawan ini pada suatu ketika terbesit untuk mencipta lagu Mars Universitas Pekalongan. Impian itu sebenarnya sudah cukup lama ia pendam, tepatnya sejak ia menjadi mahasiswa angkatan 1983. Dorongan itu makin kuat tatkala ia, secara pribadi, diminta oleh Dekan Fakultas Perikanan saat itu, untuk menciptakan lagu mars untuk almamaternya itu.
Tak pelak, permintaan itu disambut. Dengan meminta bantuan pianis Ir. Ari Handriarni, M.P ia pun menggubah lagu itu segera. Semangatnya yang begitu tinggi dibarengi dengan kreativitasnya di dalam mencipta lagu akhirnya membuahkan sebuah alunan lagu yang energik. Lewat tempo, dinamik, juga birama serta alunan nada yang riang, lagu Mars Universitas Pekalongan gubahan Dewanto ibarat ombak di lautan yang bersukaria menari hingga tepi pantai.
Tiap titian nada yang dimainkan dalam lagu tersebut, memberi gambaran optimisme yang tinggi. Dari bagian awal sampai pada klimaks (chorus) lagu tersebut tampak sebuah kesinambungan titian nada yang dinamis. Lewat tempo dan dinamik yang ditampilkan pada lagu tersebut, tampak kesan seolah-olah ia tengah memainkan ruang gerak imajinasi yang membawa pada suasana riang di dalam menyambut masa depan yang gemilang.
Begitulah lagu Mars Unikal yang digubah oleh Agung Dewantono. Pria berparas ganteng ini, resmi dinobatkan sebagai pencipta Mars Universitas Pekalongan sejak masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Hukum. Kini, selain hobi bermusik, ia menekuni profesinya di Koperasi Sumpan Pinjam (Kospin) JASA Pekalongan sebagai Kepala Bagian Legal Officer. Sebuah kedudukan yang bergengsi di sana. Ia tercatat menjadi pegawai di sana sejak tahun 1990 sampai sekarang.
Sebagai seorang pencipta lagu, Agung pernah pula menyabet beberapa prestasi yang luar biasa. Ia pernah menjuarai Lomba Cipta Lagu yang membawa namanya dimuat di koran-koran. Alhasil, orang-orang kampungnya pun menjadi tahu siapa sesungguhnya pria berkacamata ini. Tidak hanya itu, ia juga pernah menyabet gelar juara III kategori Pencipta Lagu Mars Kabupten Pekalongan tingkat Kabupaten Pekalongan.
Ada kebanggaan yang menghinggapi dirinya, manakala ia mampu menggubah lagu Mars Unikal. Lebih-lebih karena fungsi lagu itu kini telah dikukuhkan sebagai identitas Unikal. Sudah tentu, sebagai sebuah identitas, lagu tersebut menjadi jiwa bagi Unikal. Aspek batiniah yang dimunculkan memberi gambaran tentang semangat, kegairahan, dan gelora yang dipancarkan Unikal.
Dia juga mengaku senang karena lagu Mars Universitas Pekalongan ciptaannya terus diperdengarkan pada setiap kegiatan seperti wisuda, baik fakultas maupun universitas atau acara-acara lainnya. Dari sini pula, dia merasa semakin memiliki Unikal. Menurutnya, Unikal sudah seperti rumahnya sendiri. Sebuah keluarga.
Tetapi, ia kadang merasa kurang nyaman ketika lagu gubahaannya itu diperdengarkan tanpa rasa penghayatan, baik penyanyinya maupun pendengarnya. Menurutnya, gema lagu mars dalam ruangan bisa membuat trenyuh hati pendengarnya. Tetapi, hal itu tidak akan terjadi ketika situasi dalam prosesi itu tidak terkondisikan dengan baik atau suasana yang tidak mendukung. Karenanya, pesan dan makna lagu tersebut bisa saja tidak tertangkap. Ia menyesalkan jika dalam situasi yang semestinya khikmad tiba-tiba direcoki oleh hal-hal yang tidak perlu. Sehingga, penghayatan terhadap lagu Mars Universitas Pekalongan ciptaannya itu menjadi hilang.
Terlepas dari itu, Agung tetap merasa bangga terhadap almamaternya. Namun, ada sejumput harapan yang masih ingin digantungkan pada almamaternya. Harapan itu tak lain adalah terciptanya suasana kampus yang benar-benar kampus, seperti kampus-kampus lain. Ia melihat, suasana kampus Unikal masih belum berasa kampus. Lalu-lalang mahasiswa di lingkungan kampus dengan beragam aktivitas masih belum tampak hidup. Padahal, menurutnya, hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi alumni SMA untuk berkuliah di Unikal. Ia mencontohkan, di beberapa kampus lain, begitu masuk pintu gerbang kampus, ratusan mahasiswa tampak berlalu-lalang dengan aktivitas mereka masing-masing. Sehingga, atmosfer perkampusan benar-benar terasa saat itu.
Di sisi lain, sebagai seorang alumni sekaligus komposer lagu Mars Universitas Pekalongan, Agung berpendapat bahwa Unikal harus lebih berani tampil di luar. Dia sangat berharap agar kampus almamaternya itu lebih dikenal oleh masyarakat luas. Tidak hanya masyarakat Pekalongan, melainkan masyarakat dunia.

(Ribut Achwandi)