Lomba Menulis Dialek Pekalongan, Upaya Menangkal Kepunahan Bahasa Lokal

oleh

Kota Pekalongan – Upaya menangkal kepunahan dari dialek Pekalongan, Dinas Perpustakaan Dan Arsip Kota Pekalongan mengelar lomba menulis dialek Pekalongan yang diikuti 46 siswa SMP.
Kegiatan penulisan dialek Pekalongan merupakan salah satu rangkaian kegiatan gerakan Ayo Membaca, yang di gelar di Lapangan Jetayu, Rabu, 26 September 2018.
Kagiatan yang baru pertama di gelar ini, sekaligus untuk mengetahui sampai dengan sejauh mana perkembangan dialek Pekalongan, pada era milenial seperti saat ini.
Kepala Bidang Perpustakaan Ade Hawati mengungkapkan, lomba menulis dialek Pekalongan merupakan sebuah inovasi untuk nguri-nguri budaya bahasa lokal, yang dirasa sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
“ Ada kekhawatiran bahwa pengunaan dialek Pekalongan, oleh generasi muda semakin berkurang. Sehingga perlu ada upaya oleh pemerintah, untuk melestarikan dialek Pekalongan,” ungkapnya.
Menurut Ade, walau pertama kali digelar, namun lomba ini banyak mendapat respon baik dari kalangan para guru dan pelajar di Pekalongan.
Sementara itu, salah seorang juri lomba dialek Pekalongan, Ningsih menjelaskan, dalam lomba tersebut menunjukan masih banyak anak, yang masih belum paham tentang apa yang dimaksud dengan dialek.
Ningsih yang juga guru di SMP Negeri 8 mengatakan, banyak dari peserta lomba yang masih mencampur dengan pemakaian bahasa Indonesia dan masih banyak mencampur dengan logat Semarangan dan Solo.
“ Masih ada pemakaian bukan logat Pekalongan seperti kata ananging, amargo, yo too, mungkin karena mereka kurang mendapatkan bimbingan,”katanya.
Ningsih menambahkan dengan diadakannya lomba penulisan ini, maka diharapkan warga Pekalongan akan semakin nguri-nguri dialek atau bahasa Pekalongan. (*)