Ketika Taget Partai Partai Lampaui Jumlah Kursi

oleh

PEKALONGAN – Kursi DPRD Kota Pekalongan pada Pemilu 2019 naik dari 30 menjadi 35 buah. Praktis semua partai peserta pemilu yang berlaga di Kota Pekalongan memiliki optimisme dapat menambah kursi. Setidaknya ada 5 kursi baru yang bakal dijadikan rebutan untuk menambah jumlah anggota DPRD.
Dari pantauan ISP, Partai partai yang saat ini mempunyai kursi di DPRD Kota Pekalongan sudah memasang target perolehan kursi entah bagaimana strategi dan caranya. Misalnya Partai Golkar jauh-jauh hari sudah mentargetkan 14 kursi sebagaimana disampaikan Ketua DPD Partai Golkar Balgis Diab beberapa bulan silam. Sedangkan Ketua DPC PDIP Titik Retuningsih menargetkan mendapatkan 9 kursi.
Ditempat terpisah Ketua DPC PKB Saelany Mahfudz yang juga Walikota Pekalongan menegaskan bila partainya bakal mampu meraih 8 kursi DPRD Kota Pekalongan. Disisi lain Ketua DPD PKS Aji Suryo ingin agar partainya memperoleh 5 kursi, sedangkan Caleg Gerindra No 2 Dapil Pekalongan Barat Agus Wibowo Ayusta mengatakan pihaknya optimis mampu mendapatkan 5 kursi.
Sementara itu Caleg PPP No 4 dari Dapil Pekalongan Selatan Imaduddin menyebutkan partainya realistis dalam Pemilu 2019. Disebutkan jika PPP akan menambah 2 kursi sehingga menjadi 6. Adapun tambahan yang bakal diraih berasal dari Dapil Pekalongan Barat dan Selatan. “Bila gagal mendulang 6 kursi, kesempatan untuk menduduki jabatan Wakil Ketua DPRD sangat tipis,” kata Imad.
Dalam pada itu, rasa optimisme juga digaungkan Ketua DPD PAN Kota Pekalongan Makmur Sofyan Mustofa menyatakan siap raih 7 kursi pada Pemilu 2019. Pertanyaannya bila 7 partai tersebut sesuai target maka jumlahnya mencapai 55 kursi. Belum lagi partai partai lainnya yang mustinya juga punya obsesi tersendiri terhadap kursi yang diincarnya. Padahal yang diperebutkan cuman 35 kursi.
Maka menyaksikan fenomena ini, otomatis ada beberapa bahkan bisa jadi semua partai yang targetnya bakal meleset dari rasa optimisme yang selama ini diyakini. Tentu sangat menarik untuk diikuti, sejauh mana partai-partai tersebut mampu ‘merayu’ rakyat untuk memilihnya supaya tak malu atas keyakinannya.
Beranjak dari target yang ditetapkan itu, seharusnya ada konsekwensi logis dari masing-masing partai jika suaranya tak seindah rasa mimpinya. Artinya, partai yang gagal penuhi target sudah saatnya mawas diri supaya dapat bekerja sebaik baiknya untuk masyarakat. (*)