Kekasih Hujan (Ribut Achwandi)

Hujan mengantarkan kepulangan Lijan ke kampungnyanun jauh di sana. Kampung yang tak pernah ada dalam peta dunia. Tak kasatmata. Tak terbayangkan bentuk dan rupanya. Bahkan,tak tersentuh oleh akal manusia.Sangat rahasia. Orang-orang kerap menyebutnya sebagai kampung keabadian. Selebihnya, tak ada yang diketahui. Begitu pula Lijan. Yang ia tahu, ia pulang kampung dengan membawa kebahagiaan.

Tetapi di tengah perjalanan,langkah Lijan terhenti sejenak. Ketenangan jalanan yang ia lewati itu terusik. Hawa sejuk yang ia rasakan di sepanjang perjalanannya mendadak terpolusi oleh suara-suara bising. Mula-mula seperti ada desauan. Kemudian berganti menjadi bebunyiandengungan lebah. Lalu, suara itu terdengar jelas. Ada suara tangis yang putus-putus. Tangisan ibunya yang kehilangan Lijan.Ada suara jeritan yang tertahan. Jeritan saudara-saudaranya yang tak kuasa menerima berita duka. Juga ada suara kepedihan yang mendalam. Kepedihan ayahnya yang selama ini menaruh harapan besar pada Lijan.

Tak pelak, Lijan ingin memutar arah, kembali ke rumahnya yang tengah dipenuhi duka. Tetapi apa daya, Lijan harus berhadapan dengan sosok bertubuh cahaya yang ada di depannya. Dengan hati-hatiLijan memberanikan diri bertanya, “Apa kau dengar sesuatu?”

Sosok itu tak memedulikan pertanyaan Lijan. Hanya berdiri di tempatnya dengan sikapnya dingin dan kaku.

“Kau dengar suara itu?” Lijan mengulang pertanyaannya.

“Kita harus terus, Tuan. Tidak bisa kembali,” cegah sosok itu.

“Tidak! Sebelum aku bisa menjelaskan pada mereka yang sebenarnya,” sergah Lijan. Kemudian, ia duduk di atas batu hitam berukuran besar di hadapannya.

“Apa yang akan Tuan jelaskan?”

“Akan kujelaskan, aku tidak pergi. Aku pulang. Kelak mereka juga akan pulang. Mereka akan menemuiku di kampung keabadian,” jawab Lijan.

“Tuan yakin, mereka bisa menerima penjelasan Tuan?” seloroh sosok bertubuh cahaya itu dengan nadanya yang mantap.

“Setidaknya ada usaha,” sergah Lijan.

“Tuan yakin, itu akan menghapus kesedihan mereka?”

“Yakin!” ucap Lijan yakin.

“Bagaimana jika mereka menahan Tuan untuk tetap tinggal bersama mereka? Apa Tuan sanggup melawan takdir?”

Seketika angin membisukan obrolan mereka. Menghapus jejak setiap kata. Lenyap dalam udara yang beku. Dialog mereka menemukan titik kulminasi kebekuan.

Lijan tertunduk, hilang gairah. Perjalanan pulang yang semula menyenangkan berubah sendu. Sementara sosok bertubuh cahaya tak mau lagi berkompromi. Ia tak sabar menunggu.

“Mari Tuan, kita lanjutkan perjalanan,” desak sosok bertubuh cahaya itu pada Lijan.

Tiba-tiba suara Lijan mendadak parau, “Kau benar. Aku tidak mungkin melawan takdir.”

Sosok bertubuh cahaya itu kini tersenyum mendengar kata-kata Lijan.

“Tetapi, ada sesuatu yang mesti kau ketahui,” lanjut Lijan.

“Apa itu, Tuan?”

Lijan bangkit dari duduknya. “Aku menerima takdirku dengan sukacita. Sebab, aku mungkin salah satu di antara sekian manusia yang menemukan kebahagiaan saat mengakhiri hidup. Ya, aku telah menuntaskan tenunan mimpiku, mewujudkannya menjadi nyata,” jelas Lijan.

“Kalau boleh tahu, apa yang membuat Tuan bahagia?”

“Cita-cita. Ya cita-cita!” ucap Lijan sembari membentangkan kedua tangannya. Kedua telapak tangannya menengadah, seolah ingin menyatakan ia telah menggapai sesuatu yang mulanya mustahil.

“Apa cita-cita, Tuan?”

Air muka Lijan tampak cerah seketika. Sorot matanya banar. Menandakan kegairahannya kembali bangkit setelah sempat terpuruk. Ia tak memedulikan lagi di mana ia. Tak lagi memikirkan dimensi mana yang ia masuki. Senyumnya mengembang, seperti bulan sabit kala senja. Pemandangan indah yang pernah ia nikmati di pantai.

Kini, Lijan mengalami ekstase. Kegairahan yang ia bangkitkan kembali itu membuatnya tak peduli pada pertanyaan sosok bertubuh cahaya yang ada di depannya. Ia seolah telah mencuri sayap-sayap bidadari. Lalu, terbang melayang-layang di udara. Kemudian, memasuki lorong langit, tembus di ruang hampa. Disaksikannya benda-benda langit yang melayang-layang. Cahaya-cahaya berkilauan. Juga rupa-rupa keindahan yang tak ia temukan di bumi, tempat ia pernah tinggal.

“Kita mesti melanjutkan perjalanan, Tuan,” seloroh sosok bertubuh cahaya itu.

“Sebentar, aku ingin menikmati keindahan alam khayalku sejenak. Boleh kan?” ucap Lijan sembari menikmati khayalannya.

“Kita tak bisa berlama-lama, Tuan.”

“Ah, kau ini makhluk cahaya kenapa mesti takut pada waktu? Bukankah kau punya kecepatan?”

Ucapan Lijan membuat sosok bercahaya itu terpaksa menggunakan kekuatannya. Dibukanya celah alam khayal Lijan. Lalu, dihapusnya khayalan-khayalan Lijan yang bergentayangan. Seketika gelaplah alam khayal Lijan.

“Hei! Kau?!” seru Lijan tak terima perlakuan sosok bertubuh cahaya itu.

“Bukan saatnya. Juga bukan tempatnya berkhayal.”

Mendengar itu, Lijan tertawa. “Rupanya kau bisa juga tersinggung. Bisa marah, ha?” ejek Lijan.

“Ini perintah, Tuan.”

“Perintah?” tawa Lijan semakin menjadi. “Apa kau ini tak bisa sedikit menikmati hidup, ha? Selalu saja perintah, perintah, perintah! Lalu, tugas, tugas, dan tugas! Hidup macam apa yang kau jalani, ha?”

“Jika Tuan tak berkenan, baiklah. Akan aku tinggalkan Tuan di sini. Dan selamanya Tuan akan berada di sini. Dimensi liminal. Dimensi antara. Tidak ke alam kematian, juga tak berada di alam hidup manusia. Bagaimana?”

“Hei… hei… hei! Mengapa jadi sentimen? Aku tak bermaksud menghina. Aku hanya tak mengerti,” kilah Lijan.

“Tuan memang tak perlu mengerti,” tukas sosok bertubuh cahaya itu.

Ucapan itu sontak membuat Lijan terkatup. Tawanya tercekat. Kata-katanya tak lagi mudah ia luncurkan. Seketika udara membekukan kata-kata.

“Tuan masih menyisakan satu pertanyaan.”

“Baiklah,” kali ini Lijan mulai serius menjawab. “Bertahun-tahun aku memimpikannya. Bertahun-tahun pula impian itu kerap kandas. Tetapi, di saat-saat akhirku, cita-cita itu terwujud.”

“Apa itu?”

“Hujan,” jawab Lijan singkat.

“Maksud, Tuan?”

“Ya, bertemu hujan itulah cita-citaku. Bukan yang lain.”

“Apa?! Hanya bertemu hujan Tuan sudah bahagia? Coba Tuan tengok orang-orang sekitar Tuan. Tiap malam mereka berdoa, berharap mendapatkan surga. Tetapi Tuan?”

“Aku kira, aku tak perlu menjelaskannya padamu. Kelak, semua akan terang, mengapa aku memilih hujan daripada surga,” jelas Lijan. “Baiklah, aku siap. Bawa segera aku. Kita lanjutkan perjalanan,” ucap Lijan tenang disertai seulas senyuman yang ikhlas.

 

Lijan telah mengikhlaskan masa lalunyajuga hidupnya. Ia mungkin manusia yang paling bahagia saat ini. Semula, ia dihadirkan di bumi dari rahim seorang Ibu, di awal musim kemarau panjang. Sejak itu, ia tak pernah menjumpai hujan. Di masa kanak-kanak, sesekali ia hanya menemui sisa-sisa hujan. Ia temui genangan air sisa hujan di tepi jalanan kampung. Disentuh dan diusapkan air genangan itu pada pipinya.

“Segarnya,” ucapnya lirih. Kemudian, dibayangkannya hujan. Tetapi, ia selalu luput membayangkan hujan. Yang ia tahu, guyuran dari secentong gayung saat mandi.

Di waktu yang lain, saat ia terbangun dari tidur siangnya yang lelap, ia temui anak-anak sebayanya yang kebasahan bajunya. Basah oleh hujan yang turun saat ia terlelap.

“Sepertinya mengasyikkan,” gerutu Lijan kecil.

Hari-hari lain, sepulang sekolah, ia menemui pemandangan langit yang asing baginya. Sebenarnya ingin ia bertanya tentang pemandangan itu. Tetapi, ia tak cukup berani. Takut dipermalukan. Alhasil, ia hanya berusaha curi-curi dengar dari obrolan orang-orang kampung.

“Wah, mendung! Jeng, cuciannya!” seru seorang Ibu kepada tetangga agar segera mengambil cucian yang masih dijemur.

Mendengar kata mendung, ingatannya tertuju pada ruang kelas sekolahnya. Diingatnya pelajaran tentang hujan dari seorang guru. Lalu, ia menunggu hujan dari balik kaca jendela ruang tamu. Duduk di atas kursi sembari membuka halaman buku pelajaran tentang hujan. Lama ia menunggu, hujan tak turun. Bahkan, tak setetes pun air hujan turun.

Penantiannya pada hujan, tak terhenti. Tapi, ia tak surut. Sampai saat ia menjadi dewasa. Ya, ia bekerja pada sebuah perusahaan besar. Ruang kantornya serba tertutup rapat. Tak ada interaksi udara luar dan dalam gedung. Begitu pula interaksi atmosfer antara pemandangan di luar dengan di dalam gedung. Tak ada jendela. Sekali hujan, ia tak akan mengetahuinya. Kalaupun ia tahu, itupun didapat dari obrolan kawan sejawat yang baru saja dari luar kantor. Ya, aturan kantornya begitu ketat. Tak sembarangan keluar-masuk ruangan. Ia menjadi manusia yang terpenjara oleh pekerjaan.

Di saat yang lain, ia pernah meminta kekasihnya menceritakan tentang hujan. Setiap kali mereka bertemu, cerita hujanlah yang selalu ingin ia dengar.

“Aku heran, kau lebih peduli pada hujan ketimbang aku. Aku ini calon istrimu, mas! Beri sedikit aku perhatian dong?!” keluh kekasihnya.

Lijan tak bisa mengelak. Ia pun menceritakan hubungannya dengan hujan. Malangnya, kisah hidupnya dan hujan justru membuatnya kehilangan pacar. Ning, perempuan cantik yang dipacarinya selama dua tahun meninggalkannya dengan kisah hujannya.

Pada titik kulminasi kejenuhan, Lijan, pada suatu ketika, nekad tak masuk kerja. Musim hujan tengah puncak-puncaknya. Seharian ia duduk di alun-alun kota. Menantikan hujan.

Mendung tebal merenggut biru langit. Seketika wajah langit menjadi seram. Seolah-olah hendak mencengkeram bumi. Menelan bulat-bulat. Angin bertiup kencang. Diiringi gelegar halilintar dan kilatan-kilatan petir yang menyambar-nyambar. Lijan makin bergairah. Makin tak sabar menantikan hujan. Ia yang semula duduk, kini berdiri siap berlarian mengitari alun-alun kota. Menyambut hujan.

Tetesan pertama jatuh tepat di keningnya. Rasa penasarannya memuncak. Senyumnya mengembang, rekah. “Hujan… hujan… hujaaan! Ayolah hujan, cepat turun!” gumamnya.

Tak berselang lama, hujan deras menghunjam tanah. Tanpa melepas sepatu pantovelnya, juga bajunya yang tampak rapi laiknya orang kantoran, Lijan menerjang. Berlarian menuju tengah alun-alun. Berloncatan seperti anak kecil. Sementara, orang-orang berlarian menepi. Mencari tempat berlindung. Bahkan, mereka memilih masuk ke dalam rumah, warung, ada juga yang memilih masuk ke dalam mall.

Kini Lijan sendirian berhujan-hujanan. Ia biarkan tubuhnya basah. Ia biarkan angin menyergapnya. Bahkan tak peduli apa kata orang-orang. Ia juga tak peduli petir yang menyambar-nyambar. Baginya, itu sensasi hidup, setelah sekian lama ia jalani hidup yang landai. Tak berdenyut, juga tak pasang surut. Ia tenggelam dalam sensasi hujan. Makin tenggelam. Makin dalam. Makin mengasyikkan. Makin ia tak ingin melepaskan hujan. Hujan telah digenggamnya!

“Terima kasih, Tuhan! Kau datangkan hujan untukku! Terima kasih Tuhan!” serunya. Berkali-kali ia ucapkan itu. “Ya… terima kasih Tuhaaan!!!” dan itulah teriakan terakhirnya di tengah hujan.

Keesokan hari, koran-koran menulis, seorang karyawan teladan di sebuah perusahaan bonafit tewas tersambar petir. Tetapi, koran tak menulis, ia mati dengan wajah tersenyum. Sebuah kematian yang membahagiakan.

Pekalongan, 1 November 2015

Please like and share..

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*