Imbas Poster Menyesatkan, Komunitas SP MInta Maaf Secara Terbuka

PEKALONGAN – Komunitas Sedulur Pekalongan (SP) secara terbuka akhirnya meminta maaf kepada masyarakat Kota Pekalongan Selasa (5/12). Hal itu menyusul tersebarnya poster ajakan untuk peduli banjir dengan memuat plesetan branding Kota Pekalongan. Koordinator SP Moh Menang Susilo mengakui pihaknya telah melakukan kesalahan yang menyebabkan kegaduhan dan menimbulkan kemarahan warga Kota Pekalongan. Meski sebenarnya tidak ada niat untuk mennyinggung siapapun. “Kami minta maaf atas kelalaian ini,” ungkapnya saat jumpa Pers diruang Staff Ahli Walikota Pekalongan.
Menurutnya, komunitas SP punya niat untuk membantu para korban banjir dan rob. “Kami akui pula bahwa itikad kami tersebut memang belum memiliki ijin, Karenanya, sekali lagi kami minta maaf,” tandasnya.
Sementara tokoh masyarakat Bandengan Dharwanto mengatakan pihaknya salut atas inisiatif komunitas SP yang punya niat untuk bantu korban banjir dan rob. Namun pihaknya menyayangkan bila dilakukan dengan cara-cara kurang bijak. Pasalnya, dengan mencantumkan plesetan branding Kota Pekalongan sama halnya ingin mengajak para korban banjir untuk mengakui jika plesetan itu benar dan mendapat dukungan dari para korban banjir. “Mohon kalau ingin bantu jangan dibumbui dengan hal-hal lain,” katanya.
Sedangkan Ketua Aliansi Rakyat Anti HOAX (ARAH) Muhammad Luthfi mengatakan poster ajakan tersebut bisa dikatakan HOAX bila penyelanggara belum mengantongi ijin. Terlebih memunculkan branding yang menyesatkan. “Ini adalah pelajaran bagi kita semua agar kedepan peristiwa tersebut tidak terulang lagi. Dan bagi siapapun yang ingin adakan acara, urus dulu ijinnya dan baru sebarkan pengumumannya,” ungkap dia.
Hal itu diiyakan Kabag Humas Pemkot Pekalongan Arif Karyadi. Bahkan Arif mengatakan apa yang dilakukan komunitas SP telah melanggar Perda No 5 tahun 2014 tentang branding Pekalongan Bab 5 Pasal 9, dimana ada larangan untuk mengaubah logo jadi outline maupun mendistorsi, memindahkan letal tulisan ataupun mengganti huruf. “Adapun Sanksinya tercantum dalam Bab 10 bisa berupa teguran lesan, tertulis dan sanksi pencabutan ijin.

Ungkapan kekecewaan juga disampaikan Ketua LMPI Zainal Arifin, Ketua KMKB Zakaria dan sejumlah elemen lainnya. Namun secara umum mereka bisa memaafkan kekhilafan dari komunitas ‘Sedulur Pekalongan’.  (*)

Please like and share..

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*