Direktur ISP Gelar Polling Capres, Hasilnya Mengejutkan

oleh

Direktur Infosekitarpekalongan (ISP) Muhammad Luthfi menggelar polling atau jajak pendapat via akun Facebooknya dari Rabu (10/10) jam 10.31 hingga Kamis (11/10) jam 10.30. Hasilnya diluar dugaan, dimana pasangan Prabowo-Sandi mendapatkan suara 70% dibandingkan Pasangan Jokowi-Makruf yang hanya 30%.  Jajak pendapat ini diikuti sebanyak 962 warganet, yang memilih Jokowi-Makruf sebanyak 289 dan Prabowo-Sandi mendapatkan 673 suara.

Hasil ini tentunya berbeda jauh dengan yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey. Masyarakat sah-sah saja mencibir polling di FB, meski sebenarnya masing-masing kubu punya kesempatan yang sama guna mengikuti jajak pendapat tersebut.  Banyak atau sedikitnya suara yang diraih dalam jajak pendapat seharusnya bisa diterima oleh kedua kubu. Bayangkan, bila ‘hanya’ sekedar polling di medsos namun netizen tidak bisa menerima kenyataan yang ada, bagaimana jika pasca Pemungutan suara dan hasilnya benar-benar diluar dugaan? Karenanya, suka atau tidak atas hasil Polling yang dilakukan di FB, harus bisa diterima dengan legowo, mengingat peraihan suara terbanyak didasari oleh semangat atau lemahnya pendukung dalam perjuangkan jagoannya.

Selain itu bagi kubu pasangan Prabowo-Sandi , hasil jajak pendapat ini menjadi obat tersendiri usai selama sepekan dibombardir dengan kasus HOAX Ratna Sarumpet. Mengapa? Karena rupanya kasus HOAX yang menyeret mantan timsesnya tidak berpengaruh pada para pendukung Prabowo-Sandi.  Bahkan ditengarai, kasus itu makin menumbuhkan fanatisme baru terhadap pasangan ini. Terbukti, dalam jajak pendapat, netizen pendukung No 2, sangat semangat dan bahu membahu mengabarkan pada rekan seperjuangannya untuk mengikuti polling tersebut dan ajakan itu dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Sementara kekalahan dalam jajak pendapat ini,  bisa jadi karena para pendukung Pasangan No1 sudah merasa diatas angin dan beranggapan bahwa Jokowi-Makruf Cuma nunggu pelantikan saja. Sehingga meremehkan kubu pesaingnya. Jika benar adanya, justru inilah kelemahan terbesar bagi Pasangan Jokowi-Makruf.  Misalnya,  ada sebagian kecil warganet kubu Jokowi-Makruf ikut men-share ke grup kelompoknya  dan mengajak agar bisa mengikuti jajak pendapat  ini.  Sayangnya, informasi adanya jajak pendapat hanya dibaca  dan malah berasumsi bahwa polling Capres tak pengaruhi massa pemilih. Bahkan ada yang berikan komentar : yang penting adalah fakta didunia nyata bukan maya.

Terlepas dari itu semua, yang terpenting adalah bahwa menyambut Pilpres 2019 maupun Pemilu Legislatif harus dengan perasaan riang gembira. Jangan sampai gegara Pilpres maupun Pileg, pertemanan jadi pertengkaran serta  persaudaraan jadi pecah. Oleh karena itu sebagai bangsa besar, mari kita kedepankan akhlaqul karimah dalam dunia nyata maupun dunia maya, tetap jaga persatuan dan utamakan keutuhan NKRI.  (*)