Didugat tak sesuai Spek dan Tak Berpapan Nama Proyek DD diSidak LSM

oleh

KAJEN – Diduga tidak sesuai spek dan tidak berpapan nama proyek pembangunan kantor PKK dan Makadam Jalan. Didesa Tegal Suruh, Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan disidak LSM MAPAN (Masyarakat Peduli Lingkungan) “kami mendapatkan laporan beberapa orang warga desa Tegal Suruh, mereka mendatangi sekretariat kami minggu lalu. Dari laporan tersebut mereka mengatakan proyek pembangunan kantor PKK di desa Tegal Suruh diduga tidak sesuai spek karena menggunakan kayu Sengon. Tak hanya itu proyek yang di bangun dengan uang Dana Desa ini tidak memiliki papan proyek, makanya hari ini kami langsung melakukan sidak ke lokasi proyek,” ujar Ketua LSM Mapan Budi Mayuro ketika di temui wartawan di lokasi proyek Senin (05/11) kemarin. Menurut Budi setelah di lakukan croscek kelokasi memang benar proyek tersebut semua bangunan menggunankan kayu sengon untuk menutupi kayu tersebut di cat dengan warna coklat tua, “seperti yang kita lihat bersama kayu memang menggunakan kayu sengon tak hanya itu tembok bangunan juga terlihat sudah retak dan tidak rata padahal bangunan ini baru selesai sekitar dua minggu,” tegas Budi. Selain itu bangunan juga tidak memiliki papan proyek, “tidak Cuma papan proyek di kantor kepala desa juga tidak ada papan informasi. Padahal itu penting sebagai sarana informasi bagi masyarakat dan sebagai transparansi anggaran,” Budi lagi. Informasi yang di himpun di lapangan juga menyebutkan pembangunan gedung ini tidak di lakukan secara swakelola tapi di pihak ketigakan. “Salah satu yang membuat bangunan ini asal asalan karena menurut informasi yang masuk ke kami gedung ini di borongkan oleh pihak ketiga, padahal sesaui aturan pembangunan yang menggunakan DD harus di laksanakan secara swakelola,” paparnya.

Proyek lain yang di soroti oleh LSM Mapan yakni pembangunan atau peningkatan jalan makadam di dusun 3 yang di bangun tahun 2017 lalu sampai sekarang mangkrak dan juga tidak memiliki papan proyek. “Ini merupakan proyek tahun 2017 namun sampai sekarang mangkrak, disini juga bisa dilihat makadam jalan ini menggunakan batu blonos semua, seharunya untuk makadam menggunakan kombinasi batu belah dan batu blonos dengan prosentase 70 banding 30. Dengan perbandingan 70 persen batu belah dan 30 persen batu blonos,” tegas Budi. Lebih parah lagi sejumlah perangkat yang di temui di balai desa mengaku tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan didesanya “kalau tanya masalah proyek langsung tanya ke pak Kades saja, karena kami disini tidak pernah dilibatkan dalam proyek tersbut,” ujar salah seorang perangkat yang tidak mau di sebutkan namanya. Dari hasil temuan ini pihaknya akan meneruskan dengan membuat laporan ke Inspektorat dan juga kejaksaan, “rencananya kami akan meneruskan temuan ini dengan membuat laporan ke pihak terkait supaya ada tindakan tegas dan tidak terjadi lagi di desa yang lain,” tambah Budi.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Tegal Suruh, Tarochi saat di konfirmasi tentang hal ini membenarkan kalau pembangunan gedung PKK menggunakan kayu sengon dia beralasan karena dana yang ada di gunakan untuk pengembangan luas bangunan, “memang seharusnya bangunan gedung tersebut menggunakan kayu keras, namun karena kami menambah luas bangunan makanya dana yang ada tidak cukup kalau harus menggunakan kayu keras,” paparnya. “Untuk papan proyek memang belum kami pasang karena ada kesalahan penulisan,” tambahnya. Ditanya tentang makadam jalan yang mangkrak Tarochi mengaku akan melanjutkan pembanguan pada tahun ini, “rencananya kami akan melanjutnya pembangunan pada tahun ini menunggu uang DD tahap ketiga turun,” elak kades. (Mit)