Ahli Sejarah : Pahlawan yang Gugur 37 bukan 35 Orang

oleh

PEKALONGAN – Lebih dari 50 tahun ada kesalahan pencatatan sejarah pertempuran 3 Oktober 1945 di Kota
Pekalongan. Dimana pahlawan yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah Jepang tersebut seharusnya
sebanyak 37 orang, namun selama ini pula Pemkot Pekalongan bersikukuh 35 orang. Terbukti, nama-nama
pahlawan yang gugur dimedan pertempuran dibadaikan di Monumen Djuang 45 sejumlah 35. Padahal di
Monumen sebelumnya (Sekarang Masjid Syuhada) tercatat 37 orang.
Ahli sejarah Pekalongan Arif Dirhamsyah mengatakan pihaknya sudah melayangkan surat agar prasasti di
Monumen Djuang 45 direvisi akan tetapi belum mendapatkan tanggapan dari Pemkot Pekalongan. Padahal,
menurut Dirham, dua mahasiswa Undip yakni Bambang Indriyanto dan Slamet Dumadi membuat skirpsi tentang peristiwa 3 Oktober dan menyebutkan bila pahlawan yang gugur sebanyak 37 orang. “Hasil penelitian pada tahun 2015 juga sama, yakni 37 orang yang gugur. Meski yang tertera di halaman Masjid Syuhada beberapa nama perlu diteliti kembali. Seharusnya hal ini direspon secepatnya agar tidak membuyarakan sejarah perjuangan rakyat Pekalongan,” kata Dirham.
Pihaknya berharap, Pemkot segera merevisi jumlah pahlawan yang gugur dan diabadikan melalui prasasti
supaya generasi penerus tidak keliru dalam membaca sejarah. “Jangan sampai hal ini dibiarkan begitu saja,
karena ini meyangkut soal sejarah perjalanan anak bangsa.”
Dirham menyebutkan bahwa Monumen perjuangan dibuat hingga tiga kali. Pertama, dibangun pada tahun 1964
di lokasi yang sekarang berdiri Masjid Syuhada. Pembangunan kedua tahun 1968 ditempat yang sama ‘hanya’
diperluas. Dan pembangunan Monumen yang ketiga tahun 1987 dilokasi seperti yang sekarang ini dengan
menghilangkan Taman Hiburan Rakyat (THR). (*)

banner 800x320